Senin, 06 Juni 2011

Hadiah-Hadiah Ulang Tahunku

Saya tidak tahu harus sedih atau bahagia untuk hari ini. Tapi, dari sekian rasa itu, tak pantas rasanya kalau saya tidak mengucapkan hamdalah. Maka, saya pun harus mengucapkan alhamdulillahirabbil’alamin ... terima kasih ya Allah atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau anugerahkan buat hamba-Mu ini. Sungguh, nikmat-Mu sangat sangat banyak dan luaaaaarrr biasa. Dan sungguh, nikmat-nikmat itu semakin menambah keyakinan pada-Mu bahwa Kau Maha Besar, Kau Maha Kuasa atas segala sesuatu di alam raya ini. Dan tidak ada alasan untuk mengingkari nikmat-Mu yang begitu sempurna. Tapi, sedihnya ... itu berarti jatah waktu saya hidup di dunia ini semakin berkurang. Hiks ... hiks ... :-(

Jumat, 03 Juni 2011

Periksa Kehamilan Lagi

Setelah dua minggu lalu saya periksa kehamilan untuk yang pertama kalinya ke dokter kandungan, insya Allah besok mau ke rumah sakit lagi. Periksa kehamilan untuk yang kedua kalinya. Mbak ipar saya yang berprofesi sebagai bidan sempet heran kok cepet banget periksanya. Baru dua minggu periksa kok udah disuruh periksa lagi. Tapi, ya gimana lagi, wong kata dokter saya, dua minggu setelah periksa yang pertama, saya diminta untuk periksa lagi. Kata dokternya sih besok kandungan saya mau dicek lagi perkembangan kehamilannya gimana. Oke deh, dokter ... besok saya ke rumah sakit.

Kamis, 26 Mei 2011

Semoga Mereka juga Segera Hamil

Saya dan suami saya terus merasa bersyukur. Bukan ... bukan saja karena kehamilan saya. Tapi, kehamilan saya ini ternyata menumbuhkan lagi semangat orang-orang di sekitar kami yang kini mulai redup. Orang-orang yang sudah lama menikah, tapi sampai kini belum juga dikaruniai momongan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Dan itu membuat kami bahagia. Dalam arti, dengan kehamilan saya ini (yang hanya bergantung pada satu ovarium, tapi ternyata saya bisa hamil), para pasangan suami istri yang sudah mulai turun semangat untuk memiliki anak, kini jadi tumbuh lagi. Mereka jadi punya semangat lagi bahwa mereka bisa segera memiliki anak.

Selasa, 24 Mei 2011

Menikmati Mual-Mual

Ini adalah pekan mual. Hehehe … itu karena selama hampir sepekan ini, saya merasakan mual-mual yang sangat. Nggak sampai muntah, tapi mualnya terasa menyiksa. Oooh, Ibu ... begini ya rasanya hamil muda? Dulu Ibu juga merasakan fase-fase seperti ini ya? Hmmm ... baru ikut merasakan gimana dulu kau begitu tersiksa saat mengandungku.

Makanan apapun nggak ada yang menarik untuk dimakan, nggak ada kerasa enak di lidah. Boro-boro enak di lidah, baru membayangkan makanannya aja, udah eneg minta ampun. Perut langsung mual-mual. Gimana kalau makanannya sampai di mulut beneran? Ooohh ... tidaaaaak!

Senin, 23 Mei 2011

Hamil dengan Satu Ovarium, Kenapa Tidak?

Ada berbongkah-bongkah rasa bahagia menyeruak dalam hati saat saya dinyatakan positif hamil. Alhamdulillah … akhirnya hamil juga! Begitu kata hati saya. Kehamilan, bagi pasangan suami istri, tentu menjadi sebuah keinginan. Siapa juga yang nggak menginginkan punya anak? Betul, kan?

Alhamdulillah, Ada Janin yang Tumbuh di Rahimku

Sabtu pagi kemarin, sebuah kejutan besar datang untuk kami berdua. Sebuah kabar yang datang di saat-saat yang tidak kami duga. Sebab, di bulan-bulan terakhir ini, kami sedang santai-santainya menikmati hidup. Kami sedang happy-happy-nya menikmati hidup kami berdua. Tidak terlalu memikirkan kapan hamil dan punya anak. Dan di saat-saat happy itu, Allah mendatangkan kabar bahagia sehingga bertambahlah kebahagiaan kami berdua. Saya hamil, ada calon janin yang sedang bertumbuh di rahim saya.

Jumat, 20 Mei 2011

Suamiku, Taman Surga di Rumah Kita Berwarna Pink!

Kami adalah pasangan pengantin baru (wueeeekkkk ... padahal udah lebih dari setahun nikahnya). Yaaah ... meskipun nggak baru-baru amat, sih. Tapi, tetap aja kami merasa bahwa kami masih pengantin baru. Huhuiiii .... Ada suka duka yang kami alami selama menjadi pasangan suami istri. Ada dukanya, tapi sedikit. Sukanya, hmmm ... banyak!

Sebagai keluarga baru yang hidup mandiri jauh dari orang tua maupun mertua, kami mengelola rumah tangga kami dengan cara kami. Kami berdua menyepakati aturan yang berlaku untuk keluarga kecil kami. Tentu ini berbeda dengan sebelum kami menikah. Dulu sebelum menikah, saya memakai aturan saya sendiri. Demikian pula suami saya memakai aturannya sendiri. Tapi, setelah kami menikah, kami memiliki aturan bersama. Aturan untuk saya sebagai istri maupun aturan untuk suami saya sebagai seorang suami, qawwam dalam rumah tangga kami. Apa saja peran, tugas, maupun tanggung jawab bagi masing-masing, kami buat kesepakatan.