Senin, 04 November 2013

Pastikan Rumah Sakit dan Tenaga Medis Pro ASI dan Pro IMD



Ada rasa ikut sedih saat saya membaca pengalaman sejumlah ibu saat mereka melahirkan putra-putri mereka. Tak sedikit ibu melahirkan yang bayinya ujug-ujug dikasih susu formula oleh rumah sakit, klinik, atau rumah bersalin begitu bayi cenger habis mbrojol. Setelah bayi lahir, bayi dipisah dari ibunya sehingga bayi tidak bisa langsung menyusu pada ibunya. Saat diberikan pada ibunya, ternyata bayi udah dikasih susu formula sebelum sempat menikmati ASI ibunya terlebih dahulu. Hmmhh.… Rasanya saya ikut merasa gelo. :-(

Alhamdulillahirabbil’alamiin saya dulu dapet rumah sakit dan dokter obgyn yang nyaman. Beberapa jam sebelum saya melahirkan, suami dapet formulir yang harus ditandatangani apakah nanti setelah bayi mak prucut lahir akan dikasih ASI saja atau diberi tambahan susu formula. Tanpa ragu-ragu, suami langsung memilih dikasih ASI aja. Dan benar, setelah bayi lahir, bayi saya tidak diberi susu formula. Hanya ASI saja.

Agar tidak mengalami kejadian seperti yang dialami ibu-ibu tadi, sangat perlu kiranya calon ayah dan calon ibu memastikan apakah rumah sakit, klinik, atau rumah bersalin yang akan dituju jika nanti melahirkan tersebut pro ASI dan pro IMD ataukah tidak. Juga yang tak kalah penting adalah memastikan apakah dokter, bidan, atau perawat di sana pro IMD dan pro ASI ataukah tidak. Ini sangat penting agar kita tidak menyesal di kemudian hari. Hehehe….

Saat usia kehamilan sekitar 38 minggu, saya dan suami memastikan ke dokter obgyn kami apakah nanti saat saya melahirkan, saya bisa langsung IMD. Dengan jelas, dokter obgyn mengatakan bahwa saya dan suami tidak perlu khawatir. Sebab, setelah bayi kami lahir akan bisa langsung IMD. Meskipun jika nanti saya operasi caecar, saya tetap bisa langsung IMD. “IMD itu hak bayi dan ibu bayi. Jadi jangan khawatir,” begitu kata dokter obgyn saya. Huuftt … rasanya ayem sekali hati saya dan suami.

Niat hati dari sebelum hamil, saya ingin melahirkan normal. Pengiiiin banget merasakan melahirkan normal itu kayak apa. Tapi ternyata saya mesti melalui persalinan secara caecar. Ada rasa sedih karena tak bisa tercapai keinginan untuk melahirkan normal. Tapi ya sudahlah, tak usah dipikir sedihnya. Ini yang terbaik buat bayi kami. Begitu pikir saya. Saat itu sudah HPL plus 7 hari. Posisi bayi masih agak miring dan kepala belum masuk panggul. Dan saya pun juga belum mengalami kontraksi. Detak jantung bayi saya terdeteksi melemah. Mungkin saja jika saya mau bersabar, posisi bayi saya udah turun dan masuk panggul. Aaah, tapi sudahlah. Saya tak mau menyesali. Kami memutuskan caecar demi bayi kami, bukan karena saya takut melahirkan normal atau karena kami memilih tanggal dan waktu cantik. 

Alhamdulillah meski caecar, janji dokter obgyn bahwa bayi saya bisa IMD akhirnya terbukti juga biarpun tidak sampai 1 jam. Saat perut saya sedang dijahit, bayi saya dibiarkan merayap di atas perut saya menuju payudara. Campur aduk rasanya. Dari semua rasa itu, saya amat sangat bahagia. Saya terharu dan menangis melihat makhluk mungil itu merayap di dada saya. Ini ya makhluk mungil yang selama ini bergerak di dalam perut? Lucunyaaa. Bibir mungilnya basah saat disentuhkan ke pipi saya. Kedua telapak tangan mungilnya juga masih basah air ketuban. Rambutnya hitam lebat.

Pada hari ketiga setelah melahirkan, saya mulai galau karena ASI saya belum juga deras. ASI saya baru sebatas menetes, itu pun payudara harus saya pencet terlebih dahulu. Sementara godaan dari berbagai penjuru terus berdatangan. Sebagai ibu yang baru melahirkan dengan kondisi fisik yang masih sakit karena habis caecar, godaan itu membikin saya mulai panik. Kombinasi yang pas antara fisik sakit dan muncul berbagai godaan sehingga menimbulkan kegalauan. :-) 

Suami saya menenangkan saya bahwa saya tidak perlu panik. Tapi karena saya terus panik karena godaan terus datang, saya mengajak suami untuk menemui bidan kepala bangsal. Dengan tertatih-tatih berjalan, saya dan suami berkonsultasi tentang ASI saya yang belum deras. Apakah ASI saya cukup? Apakah tidak apa-apa jika hari ketiga setelah bayi lahir namun ASI saya belum deras? Apakah tidak perlu bantuan susu formula? Jika butuh bantuan susu formula, susu merk apa yang paling bagus? Begitu kira-kira rentetan pertanyaan saya.

Dengan bijak, bidan tersebut menjelaskan bahwa saya dan suami tidak perlu khawatir. Bayi baru lahir tidak memerlukan banyak susu seperti yang kita pikirkan. Ukuran lambung bayi baru lahir sangatlah kecil, kira-kira sebesar kelereng. ASI yang keluar dari payudara saya pasti pas dan sesuai dengan kebutuhan bayi saya. Jadi, tak perlu saya merisaukan apakah ASI saya cukup ataukah tidak. Cukup insya Allah. Yang kedua, memang ASI tidak langsung keluar sur-sur deras. Ada tahapannya sesuai kebutuhan bayi. Biasanya mulai hari ketiga setelah bayi lahir, ASI mulai deras keluar. Tapi jika belum deras, tunggu saja di hari keempat atau kelima. Itu pasti sudah deras. Begitu kata bidannya. Yang ketiga, saya tidak perlu bantuan susu formula untuk bayi kami. ASI sudah sangat cukup. Dan tidak ada susu formula sebaik kandungan ASI. “Lagi pula, Bapak sudah menandatangai formulir kan? Kami juga tidak memberikan susu formula pada bayi Bapak dan Ibu seperti yang Bapak pilih pada formulir itu. Bapak dan Ibu yang sabar saja. Tunggu saja sebentar lagi juga ASI-nya deras,” begitu jelas bidan itu.

Keluar dari ruangan bidan kepala bangsal, suami saya berkata, “Tuuuh, kan. Sabar, ya? Ini ujian kesabaran bagi kita. Sebentar lagi ASI-nya juga deras.” Hihihi … saya malu sendiri. Saya yang waktu masih hamil paling heboh soal penanganan panik, ternyata saat menghadapi sendiri kondisi tersebut, saya yang malah panik. Bersyukur suami saya tetap tenang. Padahal saat saya masih hamil, saya berkali-kali pesan karena takut jika suami panik, “Nanti jangan panik, lho, Yang.” Hihihi … ternyata yang panik malah saya. ^_^

Hari ketiga setelah melahirkan, sekitar jam 2 siang, saya dan bayi kami diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Alhamdulillah senengnyaaa. Operasi caecar hari Senin siang, hari Rabu siangnya udah boleh pulang. Cukup 3 hari saja udah bisa pulang. Udah bisa jalan-jalan sambil gendong baby. Nggak kebayang sama cerita ibu yang melahirkan caecar tanpa keluhan apa pun baru diperbolehkan pulang setelah menginap 5 hari di rumah sakit. Pasti rasanya lamaaaaaa sekali ibu tersebut di rumah sakit. Saya aja yang 3 hari di rumah sakit udah pengin buru-buru pulang, merawat bayi di rumah aja yang jauh lebih nyaman daripada di rumah sakit. :-)

Semoga semakin banyak calon ibu dan calon ayah, juga ibu dan ayah yang mau menambah anak, untuk semakin siap menyambut kehadiran buah hati. Pastikan semua hal yang akan menyertai proses persalinan kita betul-betul membuat kita nyaman. Dan yang tak kalah penting, siapkan juga beberapa alternatif dalam proses kita menyambut buah hati. Misalnya kita mau melahirkan di bidan, ke bidan siapa? Jarak dari rumah seberapa jauh, butuh naik apa untuk ke sana, lalu lintasnya macet atau nggak, medan jalannya mudah atau susah, dan sebagainya. Kemudian siapkan alternatif lain, misalnya ke dokter. Pilih dokternya siapa, di rumah sakit mana, jarak dari rumah seberapa jauh, butuh naik apa untuk ke sana, medan jalannya bagaimana, dan sebagainya. Pastikan juga saat-saat menjelang HPL, suami betul-betul siaga di dekat kita. Jika tak ada suami, siapkan alternatif lain siapa kira-kira orang yang akan kita mintai tolong untuk mengantar atau mendampingi persalinan. Siapkan juga alternatif-alternatif lain yang sekiranya diperlukan untuk menyambut baby.

Semoga ibu, ayah, dan baby yang akan disambut, menemukan kebahagiaan. Aamiin yaa rabbal’alamiin…. :-)

6 komentar:

  1. Saya lagi browsing2 tentang permasalahan bayi saya, eh ketemu blog mbak. Seneng baca-baca artikelnya, bisa buat referensi :).

    BalasHapus
  2. Semoga bermanfaat yaaaa. Salam kenaaaal. :-))

    BalasHapus
  3. salam kenal mbak. bisa kasih info dulu pas melahirkan di rs mana dan dengan dokter siapa? terima kasih..

    BalasHapus
  4. Thanks bngt infonya mbak berguna banget :)

    BalasHapus
  5. Mbak Aunty : Maaf baru sempet buka blog. Dulu saya di PKU Muhammadiyah Solo dengan dokter Soffin, Mbak. :-))

    BalasHapus
  6. Mbak turiscantik.com : Sama-sama, Mbak. :-))

    BalasHapus