Kamis, 19 Juli 2012

Terus Semangat Ng-ASI!


Semangat ASI! Saya selalu semangat kalau ngomongin soal ASI. Gimana enggak? Susu luar biasa sempurna itu betul-betul menakjubkan. Bayi kita yang adalah bayi manusia, sangat membutuhkan ASI di awal kehidupannya. Selama 6 bulan pertama kehidupannya, bayi hanya butuh asupan ASI. Tidak ada asupan lainnya, meskipun itu hanya seteguk air putih. Hanya ASI, no others. ASI, susu yang dihasilkan makhluk Allah yang bernama manusia. Susu dari manusia yang diperuntukkan juga buat bayi-bayi manusia.

Tapi, sayang disayang, masih banyak para ibu (didukung oleh para ayah) yang memiliki bayi, secara sengaja tidak memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan kemudian dilanjutkan sampai usia baby 2 tahun. Macam-macam alasannya (tapi, ini tidak termasuk para ibu yang mengalami kelainan kelenjar mamae sehingga ASI sulit keluar atau bahkan tidak keluar). Para ibu yang saya maksud di sini adalah para ibu yang dari payudaranya keluar ASI, tapi secara sengaja tidak memberikannya kepada bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan kemudian dilanjutkan sampai usia baby 2 tahun.

Kalau dilist, mungkin ada buanyaaaak sekali alasan yang terlontar dari para ibu (dan juga para ayah) ini. Alasan yang paling populer adalah ribet, nggak mau repot harus dikit-dikit nyusui. Apalagi kalau malam hari saat bayi masih newborn. Capek jika harus begadang, membopong-bopong bayi yang ingin menyusu. Sementara mata sungguh sulit untuk dibuka, badan pun juga capek luar biasa.

Alasan lainnya adalah, anak ASI nggak bisa atau susah gemuk. Menurut mereka, bayi gemuk sama dengan bayi sehat. Padahal tidak demikian, tidak semua bayi gemuk itu sehat. Pun demikian sebaliknya, tidak semua bayi sehat itu bertubuh gemuk. Jika dilihat aktivitas dan perkembangan bayi kita baik-baik saja, lincah gerakannya, tidak pernah atau jarang sakit, selalu ceria, itu tandanya bayi kita sehat. Gemuk atau kurus bukan menjadi patokan untuk menilai apakah bayi kita sehat atau tidak.

Alasan berikutnya adalah takut payudara melorot, kendor jika harus menyusui. Hmm … bukankah saat usia semakin bertambah, kulit kita ini memang makin keriput? Seiring bertambahnya usia, makin lama maka kulit kita pun akan kendor.  Kita akan berjalan menuju arah TUA, bukan MUDA. Saat kita berjalan menua, kita tak dapat menghindari kulit kita mengeriput. Kenapa takut keriput, kendur, kalau memang pada hakikatnya kita semua ini berjalan menua? Bukankah itu normal? Wajar? Manusiawi?

Sementara alasan populer di kalangan ibu menyusui yang bekerja di luar rumah adalah repot jika harus menyetok ASI perah. Malas, nggak mau repot memerah ASI untuk bayi selama ditinggal kerja. Bahkan, jauh-jauh hari sejak masih hamil, atau bahkan sejak sebelum hamil, sudah berniat jika nanti sudah kembali bekerja usai melahirkan, bayi mereka akan diberi susu formula. Hmmm … coba kita cek, sangat banyak para ibu (dan juga didukung oleh para ayah) yang masuk kategori ini.

Alasan lainnya adalah merasa ASI para ibu pekerja ini sedikit. Saat si ibu berangkat kerja, si ibu hanya memerah seadanya untuk baby di rumah yang mana ASI tinggalan itu tidak seberapa dibanding yang dibutuhkan baby. Saat di kantor, si ibu juga tidak memerah atau memompa ASI. Alasannya malas, repot jika harus memerah. Atau beralasan tak ada waktu memerah di kantor. Atau ada juga yang beralasan buang-buang waktu, daripada memerah ASI lebih baik dipakai untuk bekerja. Duhai para ibu yang dirahmati Allah … waktu itu sungguh sangat tersedia jika kita memang berniat memberikan hak ASI bagi bayi kita. Selain menyusui secara eksklusif ini sudah diatur dalam bentuk Peraturan Perundang-undangan, kita sebagai ibu hanya perlu untuk mengkomunikasikan soal memerah ASI ini kepada atasan. Selanjutnya, kita tinggal meluangkan waktu sebentar saja untuk memerah, paling lama 30 menit. 

Hmm … kalau para ibu pekerja di luar rumah ini merasa ASI mereka sedikit atau merasa produksi ASI mereka menurun drastis setelah mereka kembali bekerja, ya terang saja. Kenapa bisa? Karena si ibu tidak rajin mengosongkan payudara. Prinsip produksi ASI sekali lagi adalah suplay and demand. Kalau demand-nya sedikit ya secara otomatis suplay-nya juga sedikit. Nah, dari mana tuh ihwal demand ASInya sedikit? Ya dari si ibu yang tidak rajin mengosongkan payudara. Atau bahkan selama bekerja, si ibu sama sekali tidak mengosongkan payudara. Jadi ketahuanlah penyebab produksi ASInya sedikit atau menurun drastis. Pengosongan payudara perlu dilakukan paling tidak setiap 2 jam sekali. Tak masalah berapa lama disusukan atau dipompa atau diperah. Bisa 10 menit, 15 menit, 20 menit, 30 menit. Bahkan 5 menit pun, it’s oke. Yang terpenting, keluarkan ASI dari dalam payudara.

Hmm … pada hal lain, tentu kita akan tergelitik dan mengernyitkan dahi kita dalam-dalam jika ada komentar bahwa saat ASI yang diproduksi kedua payudara kita ini dikonsumsi oleh lebih dari satu baby maka salah satu baby tidak akan kebagian. Sebab, si baby pertama yang mendapat giliran pertama menyusu, telah menghabiskan seluruh ASI yang diproduksi. Sehingga baby kedua dan seterusnya nggak kebagian ASI.

Hmm … parents yang dicintai Allah, ASI diproduksi selama 24 jam full nonstop. Tak ada jeda, tak ada istirahat. Hormon prolaktin dan hormon oksitosin (dua hal utama yang berperan dalam proses menyusui) akan bekerja nonstop selama 24 jam full. Jadi, tidak ada yang namanya ASInya sudah habis.  Segendut atau serakus apapun bayi-bayi yang menyusu, semua akan kebagian. Tak ada yang kehabisan ASI. Justru, jika ASI dari kedua payudara kita dikonsumsi oleh lebih dari satu baby maka itu artinya demand atau permintaan terhadap ASI, meningkat atau tinggi. Dengan begitu artinya, suplay pun secara otomatis juga akan meningkat. Itu adalah rumus. Si ibu yang menyusui baby lebih dari satu ini justru harusnya bahagia, karena produksi ASInya buanyak, melimpah ruah. #lain kali, pengin nulis soal hormon prolaktin dan hormon oksitosin ini#

Ibu yang menyusui baby lebih dari satu mungkin hanya perlu untuk memanajemen menyusui bayi-bayi mereka. Bisa dengan baby pertama menyusu payudara yang satu, dan baby kedua menyusu di payudara yang lainnya. Atau cara yang lain yang menurut masing-masing ibu nyaman.

Mommies … kuncinya hanya pada niat dan ikhtiar. Kalau kata suami saya, sungguh Allah tak akan menelantarkan titipan-Nya. Allah pasti akan mencukupi kebutuhan titipan-Nya melalui kita sebagai orangtuanya, termasuk dalam hal ini adalah kebutuhan akan ASI. ASI kita tak akan kurang untuk bayi-bayi kita. Kita hanya perlu untuk selalu percaya diri bahwa kita akan bisa menyusui dengan baik, Mom.

So, mari semangat ng-ASI bersama-sama ya Mommies! Percaya diri bahwa kita bisa. Dan yang tak juga ketinggalan, selalu belajar, belajar, belajaaaar. Tak berhenti begitu saja atau merasa puas dengan ilmu menyusui atau ilmu merawat bayi yang sudah dimiliki. Tapi, terus tergerak hatinya untuk terus mencari ilmu.

Tak lupa juga, untuk menyemangati diri dan membuat nyaman, boleh juga ibu menyusui mengonsumsi makanan atau minuman yang membuat merasa percaya diri. Bisa dengan minum banyak air putih, makanan banyak sayur dan buah, minum madu, makan kurma, minum habbatussauda, atau juga minum pil pelancar ASI. Kalau saya, saya sering nggak ketinggalan makan cokelat. Hihi … sensasinya gimanaaaa gitu kalau makan cokelat. Bikin happy, senang, bahagia. Bikin hormon oksitosinnya bekerja dengan optimal :D

Mari semangat ng-ASI bareng-bareng ya Mommies! :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar