Rabu, 20 Juli 2011

Hamil 14 Minggu : (Masih) Mual, Muntah, Plus Pegel di Punggung dan Pinggang

Alhamdulillah … pekan ini kandungan saya memasuki usia 14 minggu. Masih awal, masih rentan. Jadi, di usia ini, saya dan suami masih terus ekstra menjaga dan memperhatikan kesehatan kandungan. Kata orang, morning sickness alias mual muntah di pagi hari, umumnya hanya berlangsung hingga berakhirnya trimester pertama. Tapi, ini sudah memasuki trimester kedua, saya tetap masih merasakan mual muntah. Dan nggak hanya pada pagi hari aja mual muntahnya, tapi sepanjaaaaanggg hari siang dan malam. Sejak awal hamil sampai sekarang, mual muntah itu belum juga mereda. Hhhfftt ….

Beberapa waktu lalu saya juga membaca sebuah artikel tentang morning sickness. Menurut isi artikel tersebut, morning sickness umumnya memang terjadi pada trimester pertama. Tapi, lebih tepatnya akan berakhir pada minggu ke-14. Ooohh … alangkah leganya kalau demikian. Hihihi …. Ini berarti, akhir pekan ini alias sebentar lagi, morning sickness ini akan berakhir. Ya Allah … semoga itu benar. Hehehe … maklum, sejak sebulan pertama hamil, saya nggak pernah merasakan makanan yang enak di mulut. Apa-apa yang saya makan, terasa nggak enak. Semuanya bikin eneg dan mual. Semua makanan yang dulu saya sukai, sekarang jadi nggak enak di mulut. Kalau dipaksa makan, ujung-ujungnya malah hoek-hoek nggak karu-karuan.

Hmm … hamil memang kadang membingungkan diri sendiri. Mau makan, tapi eneg. Nggak ada nafsu makan sama sekali. Kalau dipaksa makan malah hoek-hoek. Tapi kalau nggak makan, kasihan si janin yang sangat butuh nutrisi untuk perkembangannya di dalam rahim. Nah, lho … bingung deh. Akhirnya saya memilih sering memaksakan diri untuk makan meskipun saya merasakan eneg yang luar biasa. Yang penting ada makanan yang masuk meskipun sedikit-sedikit. Nanti beberapa saat setelah maem, saya ulangi lagi maem dalam jumlah sedikit. Yang penting, perut harus terisi dan jangan sampai kosong. Sedikit sedikit kan ntar lama-lama menjadi bukit. Hehehe … apa coba? Nggak ada hubungannya. ^_^

Ehm, tapi saya nggak selalu makan nasi. Setiap harinya, makan nasi yang rutin terjadwal adalah sebanyak tiga kali, yaitu pagi, siang, dan sore menjelang petang. Di sela-sela antara sarapan dan makan siang atau antara makan siang dan makan sore atau selepas makan sore, biasanya saya selalu memaksa diri saya sendiri untuk ngemil. Kadang ngemil crakers atau roti kering lainnya, kadang tempe, kadang tahu, kadang kue-kue jajanan pasar, kadang buah. Pokoknya, apa aja yang masih bisa diterima perut dan nggak dimuntahin lagi, saya paksa makan. Tapi, tetep ada batasannya juga. Makannya dalam porsi sedikit-sedikit, habis itu dikasih jeda barang dua atau tiga jam untuk makan lagi. Kalau dipaksa makan langsung dalam jumlah banyak, hadeeeehhh … bisa balik keluar lagi deh. Jadinya, maem nasinya juga nggak banyak-banyak, ngemilnya juga nggak banyak-banyak.

Di usia kehamilan saya yang menginjak 14 minggu ini, saya belum bisa rajin minum susu. Kalau soal makanan, itu masih bisa saya paksa. Tapi kalau susu, mau dipaksa kayak apapun juga, akhirnya akan keluar lagi. Daripada minum susu tapi habis itu saya muntahin lagi, saya lebih memilih minum susu kalau saya pas lagi lumayan nggak mual. Biarin deh nggak rajin minum susu, yang penting susunya nggak balik keluar lagi. Sebagai pengganti susu, saya upayakan untuk makan dan minum yang mengandung nutrisi seperti yang ada dalam susu.

Ini nih yang bikin suami saya suka ‘ngomel’. Dia gemas kalau tahu saya nggak rajin minum susu. Saya suka bilang sama dia kalau saya betul-betul eneg, nggak bisa minum susu. Tapi, suami saya masih gemas aja meskipun saya udah ngasih alasan. Iiih … orang nggak hamil sih gampang aja ya nyuruh makan ini itu atau minum ini itu? Lha ini, orang yang hamil yang ngrasain gimana rasanya mual-mual dan muntah campur-campur sama pusing kepala. Campur aduk rasanya. Kalau cuma ngomong sih emang gampang ya? Tapi yang ngrasain, hadeeeehhh …. (Maap ya suamiku sayang? Ai lop yu)

Sejak usia kehamilan saya menginjak 6 minggu, saya mulai merasakan pegal-pegal di punggung dan pinggang. Saya pernah nanya teman-teman yang juga sedang hamil atau pernah hamil tentang keluhan saya ini. Kata mereka, mereka baru mengeluhkan pegal-pegal di punggung dan pinggang saat usia kehamilan di atas 5 bulan. Sebelum itu, mereka tidak merasakan keluhan itu. Hmmm … kok saya udah merasakan ya? Setiap hari, saya merasakan pegal-pegal di punggung dan pinggang. Sampai-sampai kalau malam, saya susah tidur karena rasa pegal yang begitu sangat terasa ini. Kalau nggak rebahan, kepala saya pusing dan perut mual-mual nggak karu-karuan. Tapi kalau rebahan, punggungnya nyeriiiii banget. Pegel. Saya jadinya suka duduk sambil merem. Ntar tahu-tahu, saya udah tergeletak sendiri ke belakang. Suami saya kasihan kalau melihat saya seperti itu. Tapi dia nggak bisa berbuat banyak, karena saya nggak boleh dipijat. Dia hanya mengoleskan minyak angin di punggung saya yang terasa pegal sambil menatap saya dengan tatapan kasihan.

Mungkin keluhan saya ini karena kalsium pada tulang-tulang saya tersedot untuk pembentukan tulang janin saya. Sementara saya sendiri nggak rajin minum susu. Jadinya jumlah kalsium dalam tulang saya berkurang drastis. Mungkin gitu kali ya? Hehehe … sok teu! Atau mungkin karena saya jadi sedikit sekali mengonsumsi air putih ya? Sejak hamil dan saya terus-terusan merasa eneg dan mual, konsumsi air putih saya memang berkurang drastis. Sehari hanya satu sampai dua gelas. Saya lebih senang mengonsumsi jus buah atau teh hangat. Hmm … apa karena itu ya? Entahlah …. :-(

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar