Senin, 07 November 2011

Bulik, Lutung Suka sama Anak yang Pakai Baju Hitam?


Saya memiliki 3 keponakan dari pihak suami, 1 perempuan dan 2 laki-laki. Kemarin, pas saya dan suami pulang ke rumah mertua buat merayakan Hari Raya Idul Adha, ada hal lucu yang terjadi dengan keponakan laki-laki saya yang paling kecil yang bulan ini tepat berusia 4 tahun. Namanya Aziz. Sedari pagi setelah Salat Ied, dia udah heboh ngajak kakak perempuannya buat pergi ke mesjid untuk melihat proses penyembelihan hewan kurban. Hebohnya sampai dia ogah memakai sandal karena takut ketinggalan melihat sapi dan kambing hewan kurban disembelih. Takut kalau dia pakai sandal jadi nggak bisa lari kenceng. Wkwkwkwk …. Meskipun akhirnya setelah dibujuk-bujuk, akhirnya dia mau juga pakai sandal. :-)
Dan sejak pagi sampai siang sekitar dhuhur, dia dengan setia berada di mesjid melihat prosesi penyembelihan hewan kurban. Setelah selesai pengepakan daging kurban, dia ikut membagi-bagikan daging hewan kurban. Nah, pada saat ikut membagi-bagikan hewan kurban ke rumah-rumah warga bersama kakak perempuannya dan juga beberapa anak kecil lainnya, di sebuah dahan pohon ada seekor monyet sejenis lutung. Ini cerita dari kakaknya setelah sampai rumah sih, soalnya saya nggak ikut. Si monyet ini bergelantungan di dahan-dahan pohon sambil mengeluarkan suaranya. Nasib tinggal di daerah pegunungan terpencil yang sudah dekat dengan kawasan hutan gunung ya begitulah. Suka tiba-tiba ada kawanan monyet yang turun gunung.
Karena kaget melihat si lutung, anak-anak itu ketakutan dan spontan berlari. Nah, Aziz yang juga ikut kaget karena anak-anak itu berteriak “lutuuuuung … lutuuuuung … lutuuuuuuung” jadi ikut berlari. Dia takut melihat si lutung. Nyaris mau nangis katanya.
Sesampainya di rumah, Aziz dan kakak perempuannya, Nisa, dengan heboh menceritakan kejadian melihat lutung itu kepada saya dan suami. Weeewww … saking hebohnya sampai seluruh anggota tubuh gembulnya bergerak-gerak, kata-katanya berloncatan ke sana kemari karena ada banyak memori dalam otaknya yang ingin dia sampaikan pada saya dan suami. Sampai gagap segala saking hebohnya.
“Bulik … Bulik … tadi … tadi … tadi … ada lutung. Lutungnya hitam. Dia di atas pohon. Kung kok kung kok kung kok *dia menirukan suara si lutung sambil loncat-loncat memeragakan si lutung yang berloncatan dari satu dahan ke dahan lainnya*. Lutungnya buntutnya panjang. Aku takut, Bulik,” katanya dengan napas tersengal-sengal.
“Oya?” jawab saya antusias.
“Iya, lutungnya di pohon,” jelasnya lagi dengan masih memeragakan si lutung yang berloncat-loncatan dari satu dahan ke dahan lainnya.
Belum selesai dia bercerita dengan hebohnya, kakak perempuannya menakut-nakuti. “Dek, tadi nggak usah lari. Nanti kamu bisa dibawa sama lutungnya lho. Kamu kan pakai kaos hitam.”
“Lutungnya suka sama anak kecil yang pakai baju hitam?” tanya Aziz polos.
“Iya,” jawab kakaknya usil.
“Soalnya aku mirip lutung?” Aziz makin penasaran.
“Ho oh,” jawab kakaknya lagi.
“Wooo … iya, tuh! Kamu bisa dibawa sama lutungnya lho tadi. Soalnya bajumu hitam,” saya jadi ikut-ikutan usil.
“Tapi kan … tapi kan … tapi kan celanaku ada putihnya,” Aziz menunjuk celana kolornya yang berwarna dominan putih.
“Iya, tapi kan celananya juga ada warna hitamnya,” kata saya.
“Tapi … tapi … tapi kan celananya ada warna orangenya,” sahut Aziz.
“Iya, tapi kaosmu warnanya hitam,” kata saya.
“Oooh … aku … aku … aku jadi mirip lutung?” dia masih penasaran.
“Iya,” sahut kakaknya.
“Hiiii … aku takut,” jawab Aziz.
Saya bener-bener geli dengan reaksi Aziz soal hubungan antara kaos hitam dengan lutung. Wajahnya bener-bener menunjukkan ketakutan. Mungkin dalam benaknya membayangkan bagaimana jika dia dibawa lutung bergelantungan di pohon hanya gara-gara baju yang dia pakai berwarna hitam. Hohoho … lucunyaaaa.
Beberapa saat kemudian sewaktu saya sedang siap-siap mau balik ke Kartasura, dia tanya lagi sama saya. “Bulik … bulik … lutung itu suka sama orang yang pakai baju hitam ya?”
“Iya,” jawab saya sok serius.
“Soalnya jadi mirip lutung?” tanyanya lagi.
“Iya,” jawab saya lagi.
Mendengar jawaban saya, dia diam sambil mengemut jari telunjuk kanannya. Hehehe … mungkin dia masih ketakutan dan ngeri membayangkan dia dibawa si lutung pergi. Setelah itu, kemana-mana dia nguntit mbah utinya.
“Mbah, aku ikut,” katanya.
“Lha kok ikut-ikut?” sahut mbah utinya.
“Aku takut sama lutung,” jawabnya.
Tak hanya suka ngintili mbah utinya, dia juga menutup semua pintu keluar rumah. Takut ada lutung katanya. Lah … dasar emang kakak yang usil, kakaknya tetep aja nakut-nakuti ada lutung. Terang aja dia makin takut aje. Sampai-sampai dia jerit-jerit dan nempel-nempel suami saya. Katanya takut ada lutung. Hohohoho … lucunyaaaa anak ini. Meskipun akhirnya saya bilang nggak ada lutung yang dateng ke rumah, dia masih parno. Kakaknya nggak berhenti-berhenti juga nggojeki adiknya soal lutung. Ditambah lagi dia ketakutan dengan daging sapi yang masih melekat sama kulit dan rambut-rambutnya. Nah, si kakak nakut-nakuti Aziz dengan membawa daging yang masih ada kulit dan rambut sapinya itu ke mana-mana. Tambah heboh aja si Aziz saking takutnya. Jerit-jerit nggak karu-karuan. Bocaaah … bocah! :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar