Senin, 14 November 2011

Sampah Oh Sampah!


Ada sebuah pemandangan yang pagi ini membuat saya sedih. Sangat sedih. Bagi orang lain, mungkin pemandangan ini biasa-biasa aja. Tapi kok kalau bagi saya, ini membuat hati saya teriris. Pagi ini saya kembali melihat sebuah adegan dimana seseorang dengan semena-mena membuang sampah di aliran sungai. Hmmm … apakah hal semacam ini biasa-biasa aja ya? Yaah … memang. Memang banyak orang yang dengan mudahnya membuang sampah bukan di tempatnya. Mereka gampang membuang sampah di pinggir-pinggir jalan, bahkan di aliran sungai atau kali. Sama sekali tak terlihat raut merasa bersalah telah membuang sampah sembarangan.
Pagi ini, saya melihat seorang laki-laki berbadan tinggi besar berusia sekitar 30-an tahun. Dia mendorong sebuah karung goni berisi sampah sayuran yang mengisi penuh karung goni plastik itu. Bahkan sampah-sampah sayuran itu sampai berebutan menyembul dari salah satu ujung karung goni. Karung itu didorong mendekati bibir sungai kecil di sebelah barat patung batik Kleco. Mungkin si laki-laki ini adalah salah satu pedagang sayur di Pasar Kleco. Sungai kecil itu mengalir di sebelah barat pasar. Tanpa ragu-ragu, setelah bersusah payah mendorong karung goni, laki-laki ini melepas ikatan di salah satu ujung karung dan langsung menumpahkan sampah-sampah sayuran itu di aliran sungai. Ckckckck … benar-benar tak ada raut rasa bersalah! Sangat santai dan sangat tenang. Terlihat sama sekali tak merasa bahwa tindakannya itu telah membuat aliran sungai menjadi kotor penuh sampah. Belum lagi aliran sungai itu menjadi bau karena sampah-sampah yang dibuang di situ menimbulkan bau yang sangat sangat tidak sedap!! Huuuhhh!!! Keseeeeel banget melihatnya.
Di sisa perjalanan saya berangkat ke kantor bersama suami, saya mengungkapkan kekesalan dan kesedihan saya kepada suami saya (padahal dia nggak salah kan? :-D). Kok bisa ya laki-laki itu membuang sampah sembarangan begitu? Kok sama sekali nggak ada kepedulian terhadap lingkungan ya? Ops … tapi, kepedulian? Apa pula istilah itu? Apa pula artinya? Mungkin si laki-laki itu sama sekali tidak pernah mengenal kata kepedulian, terlebih kepedulian terhadap lingkungan. Tapi, apa mungkin begitu? Bukankah seharusnya kedua orang tuanya maupun guru-guru di sekolahnya dulu telah mengajari tentang kepedulian? Tapi, ini sekali lagi seharusnya. Dan kalau memang si laki-laki ini telah diajari tentang kepedulian, khususnya kepedulian terhadap lingkungan, apa mungkin sekarang setelah dewasa, dia lupa dengan pelajaran itu? Semudah itukah melupakan? Sungguh menyedihkan!
Sebelum musim hujan kali ini datang, setiap kali berangkat ke kantor, saya selalu melihat ke arah sungai yang mengalir ke barat di sepanjang jalan Solo-Kartasura itu. Mata saya selalu dengan mudahnya menemukan sampah-sampah yang mengambang di permukaan air sungai itu. Dari sebelah barat tugu batik Kleco hingga ke barat di bawah jembatan UMS. Sampah, sampah, dan sampah! Sampah-sampah itu, terutama di sebelah barat tugu batik Kleco dan di bawah jembatan UMS, buanyaaaakkkk jumlahnya! Bikin eneg perut. Hmm … ternyata belum berkurang ya pencemaran di sekitar lingkungan kita? Dan setelah dua kali turun hujan di awal musim penghujan kali ini, saya tak lagi melihat banyak sampah di sepanjang aliran itu. Mungkin sudah terbawa aliran air di sungai itu.
Di atas, saya menulis bahwa pagi ini saya kembali melihat orang membuang sampah sembarangan di aliran sungai itu. Ya, saya kembali melihatnya! Sebab, sebelumnya, saya sudah beberapa kali melihat orang-orang yang juga dengan seenaknya membuang plastik-plastik kresek hitam besar berisi sampah dibuang di saliran sungai itu.
Saya pernah melihat seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tahun membawa 3 buah bungkusan plastik kresek hitam besar di kedua setang sepeda motor bebeknya. Si bapak ini berhenti di depan RSO Orthopedi. Saat itu, saya dan suami naik sepeda motor di belakang si bapak ini. Tanpa ragu, setelah turun dari motornya, weeeeeeenggg!!! Si bapak membuang ketiga plastik kresek besar itu ke aliran sungai yang mengalir lewat depan RSO itu. Setelah sampah-sampahnya dilemparkan ke sungai, si bapak kembali ke motornya dan melanjutkan perjalanannya. Hmmm … enak bener ya? Ckckckck ….
Lain waktu, saya melihat juga seorang laki-laki berusia sekitar 40-an tahun yang juga dengan semena-mena membuang sampah di aliran sungai di depan RSO Orthopedi itu. Si laki-laki berpakaian rapi dengan sepatu kerja hitam itu juga tanpa ragu membuang 2 buah bungkusan plastik kresek hitam besar di saliran sungai itu. Hati saya langsung membatin, itu pasti sampah! Ckckckck … gampang sekali ya?
Lain waktu lagi di tempat berbeda, saya juga melihat beberapa orang, laki-laki maupun perempuan, dengan semena-mena membuang sampah di pinggir jalan, tepatnya di sebelah barat Goro Assalam Pabelan. Tempat itu bukanlah tempat pembuangan sampah. Tapi entah, mungkin karena sudah banyaknya orang dan juga setiap hari ada aja orang yang membuang sampah di situ, tempat itu jadi mirip tempat pembuangan sampah. Padahal tempat pembuangan itu persis di pinggiran jalan besar ke arah Solo. Bener-bener persis di pinggir jalan besar. Lalu, gimana dengan estetika dan kebersihan? Oh … sepertinya tidak perlu membahas soal itu. Terlalu jauh rasanya untuk disandingkan dengan kebiasaan orang-orang yang sangat gampang membuang sampah sembarangan. Saat angin sedang berhembus, sementara tumpukan sampah di situ menggunung dan belum dibakar, hmmm … siap-siap aja merasakan ‘harumnya’ bau sampah. Mau coba? Silakan datang dan berlama-lama di situ. :-)
Duuuh … sungguh miris setiap kali melihat adegan-adegan membuang sampah sembarangan seperti itu. Dan tempat pembuangan sampah dadakan di sebelah barat Goro Assalam itu bukan hanya satu-satunya yang ada di sekitar tempat itu. Tapi, jika berkendara melewati jalan aspal kecil di belakang pagar tembok Goro Assalam itu, kita juga bisa menemui tempat pembuangan sampah dadakan. Di sepanjang tembok belakang pusat perbelanjaan itu ada tumpukan sampah dan sampah. Dan sekali lagi, bau! Soal estetika lagi, aah … itu juga tak penting lagi dibahas di sini. Jauh panggang dari api! *putus asa*
Saat melihat adegan-adegan itu, saya jadi teringat dengan ketika musim penghujan sampai pada puncaknya. Teringat saat banyak orang mengeluhkan tentang banjir dan juga genangan air yang tak mau mengalir. Hmm … apakah mereka tidak menyadari bahwa banjir dan genangan air itu disebabkan sampah yang telah mereka buang sendiri? Sampah yang kemudian memampatkan aliran air di selokan maupun sungai. Yang ada, mereka malah memaki-maki pemerintah yang katanya tidak becus menyediakan sarana dan prasarana selokan maupun drainase. Pemerintah memang kadang salah dengan tidak menyediakan banyak selokan atau drainase. Tapi, tidak selamanya pemerintah salah. Toh, perilaku masyarakat sendiri yang menyebabkan terjadinya banjir. Kok masyarakat kita jadi tumbuh sebagai masyarakat yang maunya menang terus dan nggak mau disalahkan ya? *saya bukan bermaksud membela pemerintah, dan saya juga bukan pegawai pemerintahan*
Sungguh sangat sedih. Apa jadinya dengan negeri ini ke depannya jika seperti ini terus? Masyarakat maunya menang terus dan nggak mau disalahkan, pemerintah juga biasanya maunya menang terus dan juga nggak mau disalahkan. Sama-sama emoh disalahkan. Yaaah … siap-siap aja lingkungan kita rusak, banjir terjadi di mana-mana, tanah tidak lagi subur, dan akhirnya gigit jarilah kita semuanya. Sedihnyaaaa … :-(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar