Minggu, 18 Desember 2011

Curah Hujan Rendah di Daerah Tempat Tinggalku


Sejak sekitar sebulan lalu, musim hujan telah (kembali) datang. Senangnya jika musim hujan telah datang. Tanah jadi basah, udara jadi segar. Hmm … saya paling suka dengan bau tanah kering yang baru aja diguyur hujan. Baunya sedaaaap. Mirip sama bau ampo, cemilan atau entah apa namanya. Waktu kecil dulu, ibu saya pernah memakannya. Dan saya pun ikut mencoba mencicipi ampo yang rasanya emang bener-bener rasa tanah. Katanya sih ampo itu emang terbuat dari tanah. Tapi, tanah kok dimakan, ya? Buat cemilan lagi. Hmmm … tak tahulah saya.
Selain itu, hujan kali ini sejak 2 bulan terakhir emang bener-bener saya tunggu. Soalnya, ya begitulah. Saya yang udah mulai hamil tua ini setiap saat pasti merasa gerah. Bawaannya sumuk, keringetan. Nah, kalau habis hujan, udara yang jadi seger dan nggak panas lagi, bikin badan saya nggak gerah lagi. Meskipun kadang masih rada gerah, tapi nggak bikin keringetan. Adeeemmm. :-)
Tapi, ada satu hal yang bikin saya dan suami masih aja heran sampai saat ini. Saya terhitung udah hampir 2 tahun tinggal di daerah Kartasura. Dan yang bikin saya heran adalah selama hampir 2 tahun tinggal di daerah ini, saya merasa bahwa curah hujan di daerah tempat saya tinggal itu kok rendaaaaah banget. Entah itu bener atau nggak, tapi saya merasanya seperti itu. Suami saya yang udah tinggal di daerah situ selama 11 tahun juga merasakan hal yang sama.
Sejak saya tinggal di daerah itu, saya selalu niteni. Begitu juga dengan suami saya yang juga ikut niteni. Misalnya gini, nih. Di wilayah Solo hujan deras, belum tentu daerah Kartasura juga hujan deras. Kalaupun di daerah Kartasura juga deras, itu jaraaaaang sekali. Biasanya, curah hujannya ringan. Kalau daerah Solo udah banjir-banjir, Kartasura masih aman terkendali. Bahkan sering banget kejadian di daerah kantor saya hujan turun deras sampai jalan di depan kantor saya banjir, tapi di rumah saya di Kartasura hujannya ringan-ringan aja. Bahkan nggak sampai ada genangan air. Padahal, jarak antara kantor saya dengan rumah nggak jauh-jauh amat, cukup ditempuh sekitar 15 menit perjalanan naik sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 60 km/ jam. Kok bisa, ya? Tapi, kalau di Kartasura hujan deras, daerah lain pasti juga hujan deras. Hmmm … kenapa? Kenapa? Kenapa?
Saya dan suami niteni, batas hujan deras dan hujan dengan curah biasa-biasa itu ada di seputaran kampus UMS. Kalau di jalur selatan, di palang kereta Makam Haji. Sepulang saya kerja misalnya, saya sering melihat jalan aspal dari arah Solo sampai depan Rumah Sakit Yarsis basah. Ada genangan air di kiri dan kanan jalan bekas hujan atau masih diguyur hujan. Tapi, begitu lewat pertigaan UMS, jalan aspalnya mulai kering. Dan nggak sampai Gorro Assalam yang berjarak sekitar 2 km dari pertigaan UMS, jalannya udah bener-bener kering. Nggak turun hujan. Dan begitu saya sampai rumah, juga nggak turun hujan. Padahal, saya udah basah-basahan dari kantor. Bener-bener kayak tikus kecebur got deh kalau nyampai di daerah Kartasura tempat saya tinggal. Begitu juga dengan di jalur selatan, kalau daerah di sebelah timur palang kereta Makam Haji basah karena hujan, daerah di sebelah barat palang kereta kering.
Sering banget juga kejadian temen-temen yang tinggal di wilayah Solo atau wilayah Sukoharjo lainnya pada cerita kalau di daerah tempat mereka tinggal habis hujan deras, tapi di daerah tempat saya tinggal nggak hujan. Pernah juga hampir setiap hari Solo dan wilayah lain Sukoharjo diguyur hujan deras, tapi di Kartasura nggak turun hujan selama 9 hari. Padahal, jarak antara wilayah yang hampir tiap hari diguyur hujan dengan tempat saya yang 9 hari blas nggak turun hujan itu cuma sekitar 15 km. Atau kalau mau ditempuh dengan kendaraan bermotor nggak sampai 45 menit. Ckckck … Heran dan sungguh heran saya. Kok bisa gitu, ya? Jarak berdekatan tapi kok yang satu hampir setiap hari turun hujan deras, sementara yang satunya selama 9 hari nggak turun hujan. Jangankan hujan deras, gerimis aja enggak.
Ini aja udah beberapa hari ini langit di daerah saya mendung terus dari pagi sampai malem. Tapi, blas nggak turun hujan. Yang turun hanya gerimis kecil-kecil yang nggak bikin basah badan. Sementara di daerah lain di sekitar Kartasura, hujan turun dengan lebatnya. Hmmm … si hujan ini sirik apa ya sama Kartasura? Atau malah sayang sehingga Kartasura jarang diguyur hujan? Bener-bener heran saya.
Kalau nggak turun hujan tapi udaranya adem sih nggak bikin senewen, ya? Tapi, ini nggak pernah turun hujan, udaranya juga bikin senewen. Panas minta ampun. Sampai tembok rumah pada panas. Tanaman-tanaman di halaman rumah pada layu. Sementara di saat bersamaan, daerah lain yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah, hujan turun hampir setiap hari. Ckckckck … kenapa bisa seperti ini, ya? *mikir*


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar