Senin, 03 Desember 2012

Aufa Gabagen



Akhirnya, diketahui juga Aufa kenapa. Setelah tanya ke tetangga di perumahan yang udah berpengalaman punya anak duluan, mulai tersibaklah sakit apa yang diderita Aufa. Menurut beberapa tetangga, Aufa gabagen. Saya masih inget, dulu pas saya masih kecil juga pernah gabagen. Adik saya pun juga waktu kecil pernah gabagen. Nah, sekarang Aufa terduga juga gabagen. Saya pun tanya ke suami, gabagen itu sama dengan campak nggak sih? Suami saya bilang beda. Suami bilang, kalau campak itu seperti sakit mata, matanya merah. Gitu kata suami. Saya bilang, kalau sakit mata kan namanya belekan, bukan campak. Hihihi … jauh banget ya antara campak sama belekan? :-D

Hmm … daripada pusing-pusing campak atau bukan, Jum’at sore kemarin pas di kantor, saya browsing internet nyari tahu apa itu gabagen. Hmm … ternyata benar dugaan saya, gabagen itu sama dengan campak. Beberapa ciri gabagen yang pernah diderita oleh anak-anak yang disebutkan dalam beberapa blog yang saya baca di internet itu sama dengan apa yang diderita Aufa. Seperti panas, demam, keluar ingus seperti sedang flu, batuk, dan kemudian diakhiri dengan keluarnya ruam-ruam merah maupun bentol-bentol di seluruh tubuh. Mata merah atau seperti belekan, itu juga salah satu tanda campak. Tapi, tidak semua tanda campak itu dialami oleh penderita campak. Ada yang mengalami semua tanda, dan ada pula yang tidak semua dialami penderita.

Kronologi sakitnya Aufa begini nih.

Jum’at (23 November) sore.
Aufa saya ajak ikutan aksi peduli Palestina. Saya dan suami nggak ikutan jalan kaki sih, kami naik motor ngikutin barisan yang long march dari Lapangan Kotta Barat sampai Gladak. Di tengah-tengah aksi, turun hujan deras. Kami bertiga berteduh di teras gedung di sebelah utara Gladak. Alhamdulillah nggak kehujanan. Kami bertiga baru pulang setelah hujan reda, tinggal gerimis kecil-kecil. Waktu pulang, Aufa saya tutupi jas hujan. Jadi, tetep nggak kena hujan juga. Selama perjalanan pulang, Aufa juga bobok.

Sabtu (24 November) siang.
Saya ajak Aufa bekam di daerah Banyuanyar Banjarsari, sekitar 45 menit perjalanan naik sepeda motor. Saya berbekam setelah badan saya kerasa nggak enak, pusing-pusing sejak beberapa hari sebelumnya. Pas udah mau nyampe rumah saat pulangnya, hujan turun. Tapi alhamdulillah nggak sampai kehujanan juga. Pas hujan turun deras, pas kami masuk pagar rumah.

Minggu (25 November) siang.
Saya ajak Aufa lagi pergi. Kali ini, saya dan suami ke Selogiri Wonogiri, perbatasan antara Sukoharjo dan Wonogiri. Kami bersilaturahmi ke rumah ibu mertua kakak ipar saya sekalian ngambil barang titipan dari ibu mertua saya. Perjalanan dari rumah ke Selogiri ini selama 1 jam. Kami pulang dari Selogiri sekitar jam 1 siang. Aufa kelaparan, merengek-rengek. Dan saya nggak bawa makan siangnya. :-( Jadilah buru-buru pulang biar Aufa bisa segera makan siang.

Senin (26 November) dari pagi sampai siang.
Saya ajak Aufa ke RS PKU Muhammadiyah Solo. Saya cek darah ke lab RS, karena saya pusing-pusing dan demam hampir setiap hari selama satu minggu nggak sembuh-sembuh juga. Mana demamnya selalu sore hingga malam hari, persis kayak orang sakit tipes. Dan saya pernah diopname di RS karena sakit tipes. Saya dan suami curiga, tipes saya kambuh. Setelah hasil lab keluar hari itu juga, alhamdulillah negatif tipes. Hanya saja, HB saya drop. 

Senin (26 November) sore.
Telapak kaki Aufa mulai kerasa agak hangat. Ini tanda-tanda Aufa kecapekan atau nggak enak badan. Saya dan suami mengira Aufa kecapekan karena 4 hari berturut-turut kami ajak keluar terus.

Selasa (27 November) sampai Rabu (28 November).
Saya masih izin nggak masuk kantor sejak hari Seninnya. Badan masing lemes loyo tak bertenaga, kepala juga pusing. Jadilah saya dan suami bertigaan terus sama Aufa sampai Rabu. Selasa dan Rabu, telapak kaki Aufa masih hangat. Tapi Aufa masih tetep ceria seperti biasanya. Makannya pun juga nggak berubah, tetep banyaaaak. :-D Saya dan suami masih mengira kalau Aufa masih kecapekan habis 4 hari pergi terus itu.

Kamis (29 November) siang.
Saya udah masuk kerja. Aufa kembali berduaan dengan ayahnya di rumah. Kamis siang sekitar jam 1, Aufa diajak ayahnya ngaji di mesjid deket perumahan. Kata ayahnya, belum selesai ngajinya, Aufa udah rewel gara-gara ASI perahnya udah habis, nggak bawa stok ke mesjid. Mana saat itu turun hujan dengan derasnya. Dan sedihnya, ayahnya Aufa nggak bawa payung. :-( Akhirnya, di tengah hujan yang masih turun, Aufa dan ayahnya dianterin pulang jalan kaki, krukupan jas hujan milik orang yang nganter pulang. :-) Sampai rumah, Aufa mimik ASI perah, trus bobok. Bangun tidur, Aufa rewel. Dikasih ASI perah, nggak mau. Pas saya pulang kerja, seperti biasanya Aufa makan sambil saya gendong. Di gendongan, Aufa berontak-berontak kayak nggak betah. Belum habis maemnya, saya turunin Aufa di teras rumah. Di pahanya saya lihat merah-merah. Saya kira itu bekas kena kain gendongan pas Aufa berontak-berontak tadi. Pas di teras itu, Aufa rewel. Nggak mau maem lagi.

Kamis (29 November) petang.
Sekitar jam 17.30, Aufa merengek-rengek. Tangannya mengucek-ucek matanya. Tanda Aufa udah ngantuk. Saya kelonin Aufa di kamar sambil nenen. Aufa merem. Tapi, jam 18.15, Aufa melek lagi dan rewel. Nangis-nangis. Saya neneni sambil duduk, dia masih nangis. Saya neneni sambil saya berdiri, juga masih nangis. Saya gendong, dia nangis. Saya ajak dia keluar kamar ke ruang tengah, dia ketawa setelah lihat lampu ruang tengah. Ya sudah, saya taruh dia di kasur depan tivi. Saya pergi mandi. Pas mau selesai mandi, Aufa merengek-rengek lagi. Saya pun akhirnya Shalat Magrib di ruang tivi di dekatnya Aufa. Habis itu, Aufa masih rewel. Digendong model apa aja, tetep rewel. Dineneni nggak mau lama, trus nangis lagi. Sampai ayahnya pulang sekitar jam 10 malem kurang, Aufa masih rewel. Dan bahkan malam Jum’at itu, kami begadang. Aufa cuma mau bobok hanya dengan digendong aja, nggak mau ditaruh di kasur. Badan Aufa kerasa lebih hangat lagi, tapi tidak sampai panas. Sayangnya, saya dan suami nggak ngecek pakai termometer. Di setiap pojokan kamar tidurnya Aufa, saya taruh irisan bawang merah biar virus-virus penyebab flunya kabur. Ubun-ubun dan telapak kaki Aufa juga saya olesi bawang merah parut yang saya campur dengan minyak telon. Katanya, itu mujarab untuk mengatasi gejala pilek batuk.

Jum’at (30 November).
Saya masuk kerja. Ini adalah tanggal dimana Aufa tepat berusia 10 bulan. Selama saya kerja, kata ayahnya, Aufa rewel. Badannya juga hangat. Kami berdua mengira kalau Aufa mau flu, mungkin ketularan anak tetangga sebelah yang sedang pilek. Soalnya, Kamis sore, Aufa kena cium anak tetangga yang lagi pilek meler-meler itu. Tapi sayangnya lagi, biarpun badan Aufa hangat-hangat aja dan nggak sampai kerasa panas, suami juga nggak ngecek pakai termometer. Soalnya, suami masih mengira Aufa hanya mau flu saja tadi. Jum’at siang menjelang Jum’atan, saya gendong Aufa jalan-jalan ke tetangga. Di situ saya cerita soal kondisi Aufa. Dua tetangga saya bilang, bisa jadi itu gabagen. Pas saya ajak jalan-jalan itu, bentol-bentol dan merah-merah di kulitnya Aufa kelihatan.

Jum’at (30 November) sore.
Aufa masih maem sore seperti biasanya. Tetep saya gendong juga seperti biasanya. Tapi, lagi-lagi belum habis maemnya, Aufa udah rewel. Saya yang siangnya udah cari-cari info soal gabagen di internet, sore itu udah yakin kalau Aufa lagi gabagen. Saat itu saya udah mengira, malemnya pasti Aufa rewel lagi kayak malam sebelumnya. Soalnya, di beberapa blog yang saja baca soal gabagen itu, rewelnya anak yang lagi gabagen emang nggak cuma semalam aja. Bahkan untuk sampai betul-betul sembuh, bisa sampai 1 minggu.

Jum’at (30 November) malam.
Dan bener aja, malem Sabtu itu, saya dan suami begadang lagi. Aufa nggak mau bobok tanpa digendong. Saya dan suami gantian menggendong dan memangku Aufa. Dan kami berdua pun tidurnya juga sambil duduk memangku Aufa. Malam Sabtu itu, badan Aufa kerasa panas, nggak cuma hangat aja. Pas mau dicek pakai termometer, Aufa nggak bisa tenang. Dia gerak-gerak terus. Jadilah nggak terdeteksi berapa derajatkah panasnya Aufa. Saya yang sebenernya nggak gampang memberi obat, terutama pada anak, malam itu luluh. Saya kasih Aufa parasetamol drop 0,6 ml. Sebelumnya, saya tempeli kening Aufa pakai bye bye fever. Sekitar 1 jam setelah saya kasih parasetamol, panas Aufa kerasa turun. Aufa juga jadi lebih bisa bobok lebih lama di pangkuan. Juga rewelnya nggak seribet sebelumnya. Malam Sabtu itu, bentol-bentol dan merah-merah di badan Aufa terlihat lebih banyak daripada Jum’at siangnya. Mungkin dia rewel karena badannya panas. Udah gitu kulitnya gatel-gatel kemranyas kali ya gara-gara bentol-bentol dan merah-merah itu? Jadinya dia super duper nggak nyaman sama sekali. Ngantuk, tapi nggak bisa bobok.

Sabtu (1 Desember) pagi.
Sabtu pagi pas bangun tidur, bentol-bentol dan merah-merahnya Aufa udah berkurang. Badannya Aufa juga nggak panas lagi, hanya hangat aja. Tapi, habis mandi pagi sekitar jam 8 pagi, bentol-bentol dan merah-merahnya muncul lagi. Ini seluruh tubuh. Mukanya penuh bentol dan merah-merah. Kaki, tangan, badan, leher, semuanya. Aufa super rewel lagi. Mungkin dia mau nggaruk kulitnya yang gatel, tapi nggak bisa. Juga nggak bisa bilang ke orang-orang di sekitarnya tentang apa yang dia rasa. Jadinya dia cuma bisa nangis nggoer-nggoer. 

Sabtu (1 Desember) siang.
Merah-merah dan bentol-bentolnya Aufa berangsur-angsur hilang meskipun nggak 100 persen. Aufa udah bisa ceria. Dia udah mau main. Hebatnya Aufa, biarpun dia sakit begitu, napsu makannya Aufa terbilang nggak berubah lho. Tetep banyak aja selama dia sakit, gitu. Hihihi ….

Sabtu (1 Desember) sore.
Mbah Utinya Aufa dari Jogja dan Pakdhenya, dateng. Horeeee … senengnyaaa! Hehehe … Mbah Uti kepikiran setelah Sabtu paginya saya telepon nanya obat buat gabagen apa, soalnya Aufa gabagen. Jadilah Mbah Uti ke Kartasura nengok si cucu. Mbah Uti bawa jamu gabagen yang mesti saya minum, biar jamunya ngalir ke Aufa lewat ASI yang diminum Aufa. Trus juga bawa ramuan obat gabagen yang dioleskan ke tubuh Aufa. Katanya, ramuan itu pakai daun cangkring, daun buat obat gabagen dan juga cangkrangen. Kata Mbah Uti, orang-orang tua dulu begitu ngobati anak-anak yang lagi gabagen atau cangkrangen. Sayangnya, daun cangkring itu sekarang udah termasuk susah dicari, soalnya udah banyak yang dibabat habis sama orang-orang. Daun cangkring itu bentuknya kayak daun bunga ceplok piring, tapi lebih kaku. Agak besar, sebesar daun sirsak, tapi agak bulat dan bukan lonjong-lonjong.

Sabtu (1 Desember) petang.
Habis magrib, Aufa mulai rewel. Bentol-bentolnya Aufa muncul lagi. Di seluruh tubuh lagi. Sama Mbah Uti, Aufa dipangku, dilucuti semua bajunya. Pospaknya juga dicopot. Ramuan itu digosok-gosok di seluruh badan Aufa, termasuk muka. Selama digosok-gosok, Aufa anteng. Dia malah merem-merem. Mungkin kayak lagi digaruki kali ya? Jadinya enak. Trus juga, sebenernya Aufa juga udah ngantuk, tapi malah gatel-gatel itu. Jadilah pas digosok-gosok, Aufa merem-merem. Habis digosok-gosok, Aufa cuma dipakein kaos tipis tanpa kaos dalem. Biar nyaman dan isis, gitu kata Mbah Uti. Pospaknya juga nggak pakai, cuma pakai celana aja. Soalnya, pantat dan pahanya bentol-bentol juga. Kasihan kalau dipakein pospak. Habis digosok-gosok, Aufa digendong Mbah Uti sampai bobok. Ayahnya jadi bisa lega, bisa nonton bola AFF, Indonesia vs Malaysia sama Pakdhenya. Tapi, Indonesia kalah. Hehehe … kasihan deh yang nonton, kecewa berat. Malam itu, Aufa bisa bobok anteng sampai sekitar jam 12 malem. Jam 12, dia rewel lagi. Mungkin gatel lagi. Sama Mbah Utinya dibadaki bedak Salicyl buat ngurangi gatel-gatelnya. Tapi, Aufa tetep rewel. Sama Mbah Utinya, Aufa diajak ke jalan depan rumah. Aufa baru bisa merem lagi sekitar jam 1 malem lebih. Saya yang udah teler berat, nggak tahu kapan tepatnya Aufa bobok. Malah ayahnya yang sempet duduk memangku Aufa sambil terkantuk-kantuk. Habis Aufa bobok dan mau ditaruh di kasur di samping saya, Aufa sempet beberapa kali bangun merengek-rengek minta nenen. Saya neneni, habis itu dia merem lagi. Tapi, jam 4 pagi, dia rewel lagi. Sama Mbah Utinya digendong lagi keluar rumah sambil diusap-usap badannya biar gatelnya berkurang. Soalnya, bentol-bentolnya muncul lagi. Sama Mbah Uti, Aufa sampai diajak jalan ke gerbang perumahan. Jam 5 pagi kurang, Aufa ditaruh kasur. Dia merengek-rengek. Saya neneni dia, alhamdulillah dia mau. Karena saya lagi nggak shalat, jadilah saya nggak kemrungsung mesti shalat. Aufa bobok nyenyak, baru bangun sekitar jam 6 lebih 15 menit. 

Minggu (2 Desember) pagi.
Minggu pagi sekitar jam 8 pagi setelah Aufa mandi dan makan, bentol-bentolnya banyak lagi. Aufa jadi rewel lagi. Dibedaki Salicy di seluruh tubuh sambil saputnya ditekan agak keras biar dia seperti digaruki. Tapi, Aufa tetep rewel. Mungkin gatel banget. Sekitar 40 menit kemudian, dia mulai tenang. Mungkin gatel-gatelnya udah berkurang. Bentol-bentol di badannya pun juga berangsur hilang meskipun lagi-lagi nggak 100 persen.

Minggu (2 Desember) sore.
Sekitar jam 5 sore habis Aufa makan, bentol-bentolnya Aufa muncul lagi. Rewel luar biasa. Sore itu, ayahnya Aufa udah berangkat kerja. Sedangkan Pakdhenya Aufa udah balik ke Jogja sekitar jam 9 pagi. Jadinya di rumah cuma ada saya dan Mbah Utinya Aufa yang nenangin Aufa. Di tengah hujan yang turun deras, Mbah Uti ngambil daun dlingo yang ditanam Mbah Uti di pot depan rumah. Sama Mbah Uti, daunnya dilumat bareng daun cangkring yang dibawa dari desa sana. Juga bareng dlingo dan bengle. Aufa dilucuti lagi bajunya. Ramuan itu digosok-gosok lagi di tubuhnya Aufa, termasuk mukanya. Habis digosok-gosok, Aufa nenen sambil saya usap-usap badannya. Setelah Aufa agak tenang, Aufa digendong Mbah Uti. Sedangkan saya kemudian mandi. Habis saya mandi, ternyata Aufa udah bobok di gendongan Mbah Uti.

Minggu (2 Desember) malam.
Dari gandongan Mbah Uti, Aufa saya pangku. Alhamdulillah dia tetep anteng. Setelah sekitar 30 menit saya pangku, saya pindah Aufa ke kasur. alhamdulillah Aufa juga tetep anteng. Sekitar jam 8 malem, saya susul Aufa tidur. Mbah Uti juga tidur. Alhamdulillah bisa istirahat. Kata ayahnya, ayahnya Aufa pulang hampir jam 10 malem, dan tidur jam 10 malem lebih. Syukur alhamdulillah juga bisa istirahat. Sekitar jam 2 malem kurang, Aufa bangun. Dia merengek-rengek, tapi nggak rewel. Saya neneni, dia mau meskipun nggak lama. Barulah jam 3 malem, dia rewel. Saya gendong dia. Saya bedaki pakai bedak Salicyl. Mbah Uti dan ayahnya Aufa ikut bangun. Setelah saya bedaki, dia digendong ayahnya. Karena dia masih merengek-rengek, dia saya neneni. Tapi ternyata dia nggak mau lama-lama. Dia malah lebih memilih main. Oooh … udah merasa baikan ternyata. Saya, Mbah Uti, dan ayahnya terkantuk-kantuk tiduran bertiga di depan tivi sambil nungguin Aufa main. Jam 4 kurang dikit pas terdengar adzan Subuh, rewel lagi Aufa. Saya neneni dia, alhamdulillah mau dan dia anteng. Nggak lama kemudian, dia bobok. Dia baru bangun sekitar jam 6 pagi.

Senin (3 Desember) pagi.
Alhamdulillah pagi ini pas saya berangkat kerja tadi, Aufa nggak bentol-bentol. Ayahnya Aufa juga nggak SMS atau telepon ngasih tahu Aufa bentol-bentol lagi. Moga-moga udahan merah-merah dan bentol-bentolnya. 

Ya Allah, sembuhkanlah anak hamba, Aufa. Engkaulah pemilik segala penyakit, termasuk gabagen. Engkau pulalah Sang Penyembuh segala macam penyakit, termasuk juga gabagen. Engkaulah pemilik segala macam obat penyakit. Dari-Mu lah datangnya semua penyakit. Dan dari-Mu pulalah datangnya segala penyembuh penyakit. Ya Allah, sungguh, gabagen ini sangat kecil bagi-Mu. Maka, hamba mohon, sembuhkanlah Aufa dari gabagen. Jangan lagi muncul merah-merah dan bentol-bentol di badannya yang membuatnya tak nyaman, ya Rabb. Sembuhkanlah Aufa. Cabutlah dan angkatlah penyakit gabagen dan penyakit-penyakit lainnya dari tubuh Aufa yang mungkin ada. Jagalah selalu Aufa dalam kesehatan dan kebaikan, ya Allah. Kabulkanlah doa seorang ibu untuk anaknya ini, ya Rabb. Aamiin ya rabbal’alamiiin ….

#Selama Aufa gabagen, saya kasih ASI ke Aufa lebih sering daripada biasanya. Sampai umur 10 bulan ini, Aufa no sufor. Jadilah, susu yang masuk ke tubuhnya hanya ASI. Dan karena itu pula, saya kasih ASI ke Aufa lebih sering daripada biasanya agar dia tidak dehidrasi. Jika anak panas, dikhawatirkan mengalami dehidrasi. Alhamdulillah Aufa aman. Pipisnya tetep banyak. Pupnya pun juga lancar. Saya kasih pula Aufa air kelapa hijau. Saya minumi Aufa pakai sendok. Alhamdulillah Aufa mau. Kata orang-orang, air kelapa hijau bagus biar nggak dehidrasi pula. Saya juga sempat membedaki Aufa pakai jagung muda mentah yang saya blender. Adonan jagung muda mentah itu saya bedakkan di seluruh badan Aufa, termasuk muka, agar dia merasa adem dan berkurang gatal-gatalnya. Kayak lagi maskeran malahan. Hehehe ….

1 komentar: