Selasa, 02 Agustus 2011

Kangen Bapak ...

Siang ini, seperti hari-hari sebelumnya, saya nggak memiliki banyak kerjaan di kantor. Tugas yang harus saya kerjakan, udah saya selesaikan sejak beberapa minggu lalu, bahkan sebagian sudah selesai sejak beberapa bulan lalu. Dan daripada bengong kayak sapi ompong, siang ini saya blogwalking dan menemukan sebuah blog yang sebenarnya sejak lama jadi favorit saya. Si pemilik blog memiliki catatan-catatan yang menurut saya bagus dan menginspirasi.

Tapi, siang ini saya bukan ingin membicarakan blog itu. Tapi, saat tadi saya membaca sebuah tulisan di blog itu, hati saya tiba-tiba jadi mengharu biru. Nggak terasa air mata saya mengembang di pelupuk mata dan menetes perlahan-lahan. Karena saya lagi ada di kantor dan malu kalau dilihat teman lagi nangis, saya menyingkir sejenak dari depan meja kerja saya. Saya ke depan dan duduk-duduk sebentar di sofa ruang tamu sambil meredakan mual yang sejak tadi terus-menerus saya rasakan.

Bapak … saya ingat bapak. Tahun ini, bulan Oktober tahun ini, bapak genap berusia 79 tahun. Udah sepuh. Tapi di usianya yang tak lagi muda, bapak masih memiliki tenaga seperti halnya orang berusia 50 tahun. Jalannya benar-benar masih tegak, postur tubuhnya juga sama sekali nggak bungkuk. Giginya juga masih utuh semua, belum ada satupun yang ompong. Meskipun memang rambutnya udah memutih semua. Tapi itu nggak mengurangi kegagahan bapak. Bapak masih sehat segar bugar.

Hmm … jauh ya jarak usia antara saya dengan bapak? Ya, karena memang saya lahir saat dulu bapak berusia 50 tahun. Kemudian saat bapak berusia 51 tahun, adik saya alias si bungsu, lahir. Jadilah di usia yang sekarang ini, bapak masih memiliki anak-anak yang masih muda (jiaaaaahhh) kayak saya dan adik saya. Dulu waktu saya dan adik saya masih kecil (antaraTK sampai SMP), ketika ikut bapak pergi, selalu saja orang-orang menanyakan apakah kami ini cucunya bapak. Dengan pedenya, bapak selalu bilang iya. “Daripada menerangkan panjang lebar, lebih baik diiyakan saja,” begitu bapak beralasan.
Siang ini, memori saya kembali berputar pada pertengahan tahun 2001 saat saya mulai kuliah. Aaah …. itu sudah 10 tahun yang lalu. Udah lama ternyata. Saya mengambil kuliah di UNS Solo, sebuah kampus yang jaraknya seratusan kilometer dari desa saya di Kulonprogo Yogyakarta sana. Suatu hari saat hari benar-benar masih pagi buta, jam 4 pagi, saya dan bapak pergi ke Solo. Kami naik sepeda motor. Saya dibonceng bapak. Tujuan kami ke Solo adalah untuk registrasi kuliah saya. Hari itu tepat dengan hari pelaksanaan UMPTN. Karena saya diterima masuk UNS dari jalur PMDK, maka registrasi para mahasiswa PMDK memang dilaksanakan tepat pada hari pelaksanaan UMPTN. Mungkin itu siasat agar yang sudah diterima melalui jalur PMDK nggak ikut ujian UMPTN kali ya? Karena saya belum pernah ke Solo dan bapak sudah berpuluh-puluh tahun juga nggak pergi ke Solo, maka perjalanan kami hanya berdasarkan ingatan dan insting bapak.

Saat itu usia bapak 69 tahun. Oooh … ya Allah (air mata ini tak sanggup saya bendung, saya tak sanggup menahan tangisan saya). Di usia yang sudah sepuh, 69 tahun, bapak masih harus naik sepeda motor seratusan kilometer dengan saya ada di boncengannya. Di pagi buta yang dingin, kami menempuh perjalanan jauh. Sesampainya di Solo, saya masih ingat sekali, kami melewati Jalan Slamet Riyadi melewati Gladak kemudian Pasar Gede. Sesampainya di perempatan Panggung, bapak bingung kami harus belok ke mana. Dan berdasarkan insting, bapak berbelok ke kanan ke arah kampus UNS Kentingan. Sesampainya di Pedaringan, bapak kembali bingung, tapi masih ogah nanya-nanya ke orang kemana jalan ke UNS. Akhirnya, kami terus saja kea rah timur (lewat jalan belakang kampus atau depan STSI yang sekarang telah berubah menjadi ISI). Bapak terus saja melajukan sepeda motor Honda Astrea Impresa kami ke arah timur. Sebenarnya arah itu udah benar. Tapi saat itu kami merasa udah salah jalan. Tepat di belakang kampus, kami kembali berbelok arah hingga sampai di Pasar Gede kembali. Dan di sanalah bapak bertanya kepada orang di manakah kampus UNS itu berada.

Akhirnya, kami pun balik lagi ke arah Kentingan. Tapi kali ini, kami lewat boulevard. Dan kami pun tak susah menemukan auditorium dan rektorat yang digunakan untuk registrasi. Bapak menunggu di luar sementara melakukan registrasi, dari satu tahap ke tahap lainnya. Siang hari sekitar jam 1 ketika registrasi sudah selesai, kami berputar-putar ke sekitar kampus untuk mencari kos-kosan. Akhirnya kami menemukan kos-kosan yang akan saya sewa, yaitu tepat di belakang kampus tak jauh dari pintu belakang kampus. Setelah melihat-lihat kamar dan saya merasa cocok, bapak membayar uang sewa untuk selama satu semester. Dan setelah selesai mengurus kos-kosan, bapak pulang. Seorang diri. Naik sepeda motor di saat hari tengah terik. Sementara saya harus menginap di kos karena besoknya masih harus melanjutkan registrasi yang memang berlangsung selama dua hari. Selepas bapak pulang, saya menangis di dalam kamar. Begitu pula malam harinya. Waktu itu saya belum memiliki handphone, begitu juga bapak. Jadilah saya nggak tahu jam berapa bapak sampai di rumah. Yang terbayang dalam benak saya adalah keletihan bapak naik sepeda motor sejauh itu seorang diri. Seharian bolak-balik Kulonprogo-Solo. Bapak dengan kulitnya yang mulai keriput dan rambutnya yang telah memutih … :-(

Saat saya udah masuk kuliah, saya rutin pulang setiap seminggu sekali. Berangkat dari Solo sekitar jam 11 siang setelah kuliah berakhir. Saya naik kereta Prameks jam 11.20 dari Stasiun Solo Balapan dan turun di Stasiun Tugu Jogja. Hmm … saat itu tiketnya masih 3.500 perak. Beda jauh dengan sekarang yang harga tiketnya udah 10.000 perak. Setelah itu disambung dengan naik bis Jalur 2 dan nyambung lagi naik bis jurusan Srandakan Bantul. Saat saya turun dari bis di Terminal Srandakan, bapak sudah stand by menunggu. Kadang kalau saya berangkat dari Solo naik kereta jam 14.20, bapak tetap setia menunggui meskipun saya baru turun di Terminal Srandakan sekitar jam 17.30 petang.

Setiap kali saya mau berangkat ke Solo, lagi-lagi bapak harus bercapek-capek mengantarkan saya sampai Stasiun Tugu. Ya Allah bapak … menempuh perjalanan satu jam-an hanya untuk mengantarkan anak perempuannya berangkat kuliah. Saya selalu ingat betul, bapak tidak pernah langsung pulang begitu udah nyampai di stasiun. Tapi bapak ikut masuk ke stasiun, dan baru pulang setelah kereta yang saya tumpangi bergerak berangkat ke Solo. Hal yang selalu saya ingat, bapak selalu berdiri di luar jendela kereta di dekat tempat saya duduk. Saat kereta melaju perlahan, bapak memandangi saya dari balik jendela dekat tempat saya duduk. Sedangkan saya, saya selalu tak bisa menahan air mata yang terus menderas memandangi bapak dari dalam kereta hingga saya tak bisa lagi melihat bapak yang tetap berdiri di luar sana. Sering sekali orang-orang yang duduk di dekat saya melihat saya dengan tatapan aneh ketika melihat saya terus menerus menangis.

Saat saya berangkat ke Solo dengan naik bis dari Terminal Umbulharjo atau ketika terminalnya udah pindah ke Giwangan, bapak juga selalu begitu. Bapak selalu menunggui saya di luar terminal, duduk di atas sepeda motor dan melihat ke arah bis yang saya tumpangi. Aaahh … dan lagi-lagi saya selalu tak bisa menahan air mata. Dan lagi-lagi pula, beberapa penumpang di dalam bis juga memandang dengan pandangan aneh ke arah saya saat saya menangis. Saya nggak pernah peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar saya. Toh saya sedang menangis untuk bapak saya sendiri.

Entah berapa lama bapak selalu mengantar saya sampai ke stasiun atau terminal. Mungkin empat atau lima tahun. Hmm … bapak selalu senang saat mengantarkan saya. Tak ada wajah lelah atau penat di wajahnya yang keriput. Meskipun memang, sejak semester pertama, saya membawa sepeda motor ke Solo. Sehingga saat bolak-balik Kulonprogo-Solo, saya sering naik sepeda motor sendiri. Tapi saya kadang meninggalkan sepeda motor saya di kos-kosan atau stasiun saat saya pulang ke Jogja. Jadilah saat saya harus kembali berangkat ke Solo, bapak mengantarkan saya sampai stasiun atau terminal. Bapak … bapak … pengorbanannya begitu besar.

Bapak yang tak pernah lelah menunggui saya di Terminal Srandakan saat ternyata saya baru sampai di terminal itu pada waktu magrib dan bahkan kadang lebih malam lagi. Padahal seringkali bapak sudah menunggui saya di situ sejak jam 5 sore, bahkan kurang.

Sekarang, di usia bapak yang semakin bertambah tua, saya berdoa agar bapak selalu sehat. Alhamdulillah, sampai di usia ini, bapak nggak pernah sakit serius. Paling-paling hanya demam, batuk, pilek. Itu aja. Dan di usia ini, usia yang menginjak 79 tahun, semoga saya bisa dengan lancar memberikan hadiah untuk bapak. Seorang cucu. Sejak saya menikah, bapak dan juga ibu sangat berharap saya segera hamil dan punya anak. Tapi, ternyata takdir Allah nggak demikian. Dan setelah menunggu 14 bulan, akhirnya yang ditunggu-tunggu itu segera datang juga. Saya hamil. Dan sejak pertama kali saya kasih kabar bahwa saya hamil, bapak dan juga ibu senang bukan kepalang. Bapak bilang, bapak sudah lama nggak menggendong bayi. Kali terakhir menggendong bayi adalah 28 tahun lalu saat adik saya lahir. Bapak bilang, bapak kangen menggendong bayi. Dan anak yang saya kandung ini adalah bayi yang ditunggu-tunggu untuk digendong saat usia bapak udah sepuh seperti sekarang ini. Saat-saat yang ditunggu untuk dipanggil Mbah Kakung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar