Kamis, 17 Maret 2011

Kehilangan Tetanggaku ....

Sudah hampir tiga minggu ini, saya dan suami merasa ‘kesepian’. Loooohh?? Kok bisa? Emangnya, saya dan suami lagi jauh-jauhan, ya tinggalnya? Oh … tidak … tidak. Kami berdua hidup serumah. Terus harmonis dan mesra. Hehehe … Tapi, ‘kesepian’ ini melanda kami berdua karena tetangga kami yang tinggal tepat di depan kami, pindahan.

Sebenernya, tetangga kami bukan hanya keluarga yang tinggal di depan rumah aja, sih. Ada juga yang tinggal di samping kiri, kanan, agak serong kanan, agak serong kiri. Loh … loh … kok malah jadi baris berbaris. Intinya, tetangga kami lainnya masih banyak. Bahkan, sebentar lagi, rumah di depan saya yang sekarang jadi kosong karena ditinggal pindahan, akan ditinggali lagi oleh keluarga lain. Nggak cuma itu, rumah di sebelahnya yang selama ini kosong juga sebentar lagi ada penghuninya. Duuuhhh … senengnya bakal punya tetangga baru lagi. :-)

Soal ‘kesepian’ ini, tetangga depan rumah saya ini sangat ramaaaaaaahhh banget! Kami sering ‘lempar-lemparan’ makanan. Loh??? Ehm … bukan melempar beneran, sih. Tapi, saling memberi makanan kalau sedang berlebih. Nggak cuma itu, kalau saya dan suami lagi mudik ke Jogja atau Wonogiri, rumah saya dijagain. Belum lagi kalau saya sakit, mesti ditanyain. Kata si ibu, kami jadi kayak saudara. Tapi … sekarang si ibu dengan keluarganya udah pindahan, tinggal di rumah orang tua mereka yang sekarang sering sakit-sakitan. Yaahh … memang harus merelakan. Orang yang tinggal di rumah sendiri aja bisa pindah, rumahnya dijual. Apalagi orang yang mengontrak rumah. Kalau masa kontraknya udah habis, bisa jadi si pengontrak akan pindah.

Karena keluarga kami dan keluarga si ibu udah terbilang deket, ketika sekarang keluarga si ibu pindahan, jadilah kami ‘kesepian’. Kami kehilangan tetangga ‘terbaik’ kami. Nggak ada lagi tetangga seperti keluarga si ibu. Hmm … bukannya tetangga yang lain nggak ramah dan nggak baik, sih. Tetangga yang lain juga baik dan ramah. Cuma mungkin keluarga si ibu ini paling ‘deket’ dengan kami. Jadi, rasa bertetangganya beda dengan tetangga-tetangga yang lain.

Memiliki rumah atau tinggal di perumahan memang beda dengan tinggal di perkampungan. Di perumahan seperti saya dan suami, hubungan sosial cenderung individualis. Setiap keluarga memiliki kesibukan dan kehidupan sendiri-sendiri. Nggak seperti di perkampungan yang lebih ‘saur manuk’, saling nimbrung.

Apalagi para penghuni di perumahan tempat saya tinggal, hampir semuanya bekerja dari pagi dan pulang kerja sore atau malem hari. Salah satu yang nggak termasuk di dalamnya adalah suami saya. Kalau dia, sih, kayak kelelawar. Berangkat kerja sore, pulang larut malam. Hanya kadang-kadang aja pas kerja sambilan, berangkat kerja pagi dan siang hari udah pulang. Tapi, sorenya kerja lagi sampe larut malem, kerja rutinitas. ^_^

Sedangkan saya, jam 8 pagi udah masuk kantor, jam setengah 5 sore baru sampe rumah lagi. Itu pun paling cepet. Kadang kalau ada urusan di luar kantor, nyampai rumah baru magrib atau habis magrib. Pagi sebelum berangkat kerja, udah nunggu tuh kerjaan-kerjaan buat dituntasin. Ya, nyapu, nyuci piring dan gelas, belanja ke pasar, masak, plus sesekali nyuci (I love my hubby … nggak pernah absen membantu istrinya di setiap pagi yang ‘sibuk’). Pulang kerja, badan udah capek. Ditambah beberes rumah, nyuci-nyuci, nyeterika. Tambah capek. Fiuhhh … tahu-tahu waktunya tersedot semua buat aktivitas di rumah (selain seharian kerja di luar).

Sebagian ibu-ibu di perumahan tempat tinggal saya juga bekerja dari pagi sampe sore atau malam hari. Sedangkan sebagian lagi beraktivitas di rumah, karena memiliki anak-anak yang masih kecil. Pergaulan ibu-ibu yang di rumah pun juga nggak kayak cerita-cerita di sinetron yang suka kumpul-kumpul dan ngerumpi (meskipun saya nggak suka nonton sinetron, sih). Ibu-ibu di perumahan saya lebih sering mengurus anak dan keluarga di rumah ketimbang ngumpul-ngumpul. Aktivitas keseharian lebih banyak dihabiskan di dalam atau di lingkungan rumah masing-masing. Begitupun para bapak-bapak ataupun ibu-ibu yang bekerja. Sepulang kerja, langsung masuk rumah masing-masing. Berkutat dengan kesibukan lain di rumah dan juga istirahat.

Dengan kondisi sosial seperti itu, menjalin hubungan sosial dengan para tetangga menjadi ‘terbatas’. Soalnya, setiap orang atau setiap keluarga memiliki kesibukan masing-masing di dalam rumah mereka. Pagi-pagi berangkat kerja dan sore hari menjelang petang atau bahkan sudah malam, baru sampe rumah lagi.

Kondisi itulah yang membuat kami kehilangan tetangga depan rumah kami. Soalnya, dengan tetangga depan rumah kami itulah, kami lebih sering ngobrol daripada dengan tetangga-tetangga yang lain. Hubungan kami juga lebih deket. Kalau ditinggal pindahan kayak gini, hhhffftt … sepi, deh. Hmm … pe-er bagi kami. Bikin tali silaturahmi yang sama kuat dengan tetangga depan rumah, lebih banyak lagi. Mariii … ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar