Minggu, 20 Maret 2011

Menjemput 'Jatah' Rezeki

Hari Minggu tanggal 20 Maret kemarin, saya dan suami menghadiri walimatul ‘ursy seorang kawan dari suami saya. Tempat acaranya di Klaten, tepatnya di Kecamatan Juwiring.

Di antara berbagai prosesi acara, ada salah satu acara yang intinya terus saya ingat. Hmmm … ceramah atau nasihat buat pengantin. Meskipun nasihat tersebut dikhususkan buat pasangan pengantin, semua undangan yang hadir boleh juga, dong, ngambil intisari ceramahnya? Hihihi ….

Intinya begini, kita mesti percaya bahwa Allah tidak pernah melupakan kita, hamba-NYA. Pun dalam hal rezeki (maksudnya materi), Allah selalu tidak pernah melupakan makhluk-NYA. Sama sekali tidak ada yang dilupakan, tidak satu pun. Semuanya mendapatkan bagian. Hanya aja, mungkin setiap makhluk-NYA mendapatkan bagian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ya iya lah, ya? Masak jatah makan buat kerbau sama dengan jatah makan buat cacing? Emangnya perut cacing sama besar dengan perut kerbau? Hehehe ….

Allah sudah menentukan jatah rezeki buat masing-masing orang. Nah, persoalan apakah seseorang makmur dan orang lain biasa-biasa aja, itu bisa jadi disebabkan kegigihan menjemput rezeki. Orang yang gigih dalam menjemput rezeki yang sudah dijatahkan buatnya, orang tersebut pastilah akan makmur. Insya Allah. Tapi, kalau orang yang malas mencari rezeki, ya pastilah dia nggak akan makmur. Emangnya rezeki numplek dari langit? ^_^

Selain terkait kegigihan, juga ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu cara menjemput rezeki. Allah sudah menentukan jatah rezeki buat masing-masing orang. Karena rezeki itu tidak datang dengan sendirinya, maka manusia memang harus menjemput rezeki dengan bekerja atau berusaha. Nah, ini nih yang kata pak ustadnya perlu diperhatikan.

Semisal si X dan si Y sama-sama mendapat jatah rezeki sekian. Si X menjemput rezekinya dengan cara kotor dan haram, semisal merampok, mencuri, atau korupsi. Hasilnya, si X kaya secara materi. Uangnya berlimpah, hartanya di mana-mana. Sedangkan si Y menjemput rezeki dengan cara yang lurus dan halal. Dia gigih bekerja dan berusaha. Dia nggak pernah merampok, mencuri, atau korupsi. Hasilnya, si Y kaya secara materi. Uangnya berlimpah, hartanya juga ada di mana-mana.

Kalau dilihat dari hasil akhirnya, si X dan si Y sama-sama kaya dan makmur dalam hal materi. Si X menjadi orang kaya, sama dengan si Y yang juga menjadi orang kaya. Tapi, ada yang berbeda di antara si X dan si Y ini. Meskipun sama-sama kaya, tapi cara yang digunakan untuk menjemput jatah rezekinya, berbeda. Si X mengambil jalan pintas dan si Y dengan usaha yang sungguh-sungguh di jalan lurus.

Hmm … setiap orang sudah dijatah berapa rezekinya maupun bagaimana rezekinya. Tapi, yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana usaha kita menjemput jatah rezeki buat kita itu. Apakah kita bermalas-malasan ataukah gigih berusaha. Juga bagaimana cara kita menjemput rezeki yang sudah digariskan dan dijatahkan buat kita. Apakah kita akan menjemputnya dengan cara kotor ataukah dengan cara bersih.

Cara kotor akan berakhir dengan murka Allah dan cara bersih akan berakhir dengan ridho Allah. Cara kotor akan menyebabkan ketidaktenangan hidup, sedangkan cara bersih akan menyebabkan ketentraman hidup.

So … yuk, kita menjemput rezeki kita dengan gigih dan lurus! Semoga kita dijauhkan dari rasa malas. Dan semoga pula kita diteguhkan dengan selalu menjemput rezeki kita dengan cara yang halal, bersih, baik, dan jujur. Selamat bekerja!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar