Kamis, 12 April 2012

Emak-Emak Pumping


Pumpiiiiiiinggg!!! Serunya jadi emak-emak pumping! Merah asi di mana-mana saat tak bersama si kecil. Sebuah perjuangan kecil untuk memberikan hak ASI kepada si kecil. Ada rasa bahagia saat memerah ASI dan hasilnya banyak. Rasanya gimanaaaaa gitu. Happy bawaannya. 

Sejak sebelum hamil, saya dan suami sudah membuat komitmen untuk akan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan penuh jika kami berdua dikaruniai anak. Meskipun saya tetap bekerja di luar rumah seperti biasanya, kami berdua berkomitmen untuk itu. Setelah saya hamil dan akhirnya bayi kami lahir ke dunia, kemudian saya kembali bekerja di luar rumah, kami terus berusaha menjalankan komitmen yang kami buat.
Saya betul-betul bersyukur mempunyai suami seperti suami saya. ^_^ Dia betul-betul ayah ASI yang hebat! Saya acungi 4 jempol (namanya suami sendiri ya dipuji-puji sendiri, hehehe …). Menyusui bayi dan memberinya ASI eksklusif, tak akan berjalan mulus jika tidak ada dukungan dari suami. Dan alhamdulillah, suami saya mendukung penuh dengan terus memberi semangat bahwa saya bisa terus menyusui. Salah satu contohnya adalah ketika suatu hari saya merasa ASI saya tak terlalu banyak dan saya khawatir bayi kami akan kekurangan ASI. Saat itu, suami saya menenangkan saya dengan mengatakan bahwa anak adalah titipan Allah. Dan Allah tidak mungkin menelantarkan titipan-Nya. Allah pasti mencukupi semua kebutuhan titipan-Nya, salah satunya kebutuhan akan ASI. ASI saya tidak mungkin sedikit, dan bayi kami juga tidak akan kekurangan ASI. Yang terpenting, saya harus terus berpikir tenang, berpikir positif, dan menyugesti diri sendiri bahwa produksi ASI saya melimpah. Dan tentunya tidak melupakan asupan makanan.
Sejak sekitar 2 minggu sebelum saya kembali bekerja, saya baru memulai memerah ASI untuk stok jika nanti saya telah kembali bekerja. Sangat telat sebetulnya. Seharusnya jauh-jauh hari sebelum saya kembali bekerja, saya sudah harus mulai memerah. Tapi ya sudahlah, tak usah disesali. Toh, stok ASI perahan di freezer juga cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi kami (hehehe … pembelaan diri). Setiap hari, paling tidak ada 10 botol ASI perah ukuran 100 ml ada dalam freezer kami (ini sih namanya sedikiiiiiit sekaleee). Alhamdulillah, bayi kami tidak kekurangan ASI. Toh juga setiap hari di kantor, saya juga terus memerah ASI. Setiap siang, saya juga pulang menyusui.
Saya juga sangat berterima kasih pada suami saya ketika para embah menyarankan agar bayi kami diberi tambahan susu formula, terutama setelah saya kembali bekerja. Suami saya menjelaskan kepada para embah bahwa bayi kami akan terus diberi ASI eksklusif selama 6 bulan, dan kami tidak akan memberikan susu formula selama produksi ASI saya mencukupi kebutuhan bayi kami. Huft … saya lega. Betul-betul lega. Andaikan suami saya lemah semangat dan tidak paham tentang ASI, mungkin dia akan ikut menyarankan agar bayi kami diberi tambahan susu formula saja.
Semoga saya bisa terus menjalankan komitmen memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan penuh, tidak memberikan asupan apapun selain ASI. Semoga semangat kami berdua yang pro ASI, tidak akan luntur. Semoga suami saya juga tak bosan menghangatkan ASI perah ketika saya sedang bekerja. Hehehe … ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar