Senin, 07 Februari 2011

Selamat Hari Lahir ya, Bu!

Hari ini perasaan saya sediiihhh banget. :-( Kemarin, 7 Februari, ibu saya ulang tahun yang ke-62. Tapi, saya lupa kalau kemarin adalah tanggal 7. Seingat saya, tanggal 7 baru jatuh hari ini. Hhhh … sedih! :-(

Seharusnya coretan ini saya tulis kemarin, tepat di hari lahir beliau. Seharusnya pula ucapan selamat hari lahir itu juga kemarin, tapi ternyata tidak saya sampaikan. Padahal, sejak kemarin udah saya rencanakan apa yang akan saya lakukan hari ini, di hari lahir ibu saya.  Hhhh … tapi semuanya tinggal rencana. Dan ya udah lah … nggak usah bilang seharusnya dan seharusnya lagi. Nggak perlu disesali. Toh, semuanya udah terlanjur.
Kemarin, saya udah berencana, pagi ini habis subuh mau telepon rumah bilang selamat hari lahir buat ibu saya. Mengucapkan rasa terimakasih yang tiada tara atas semua kasih sayang beliau sejak saya ada dalam rahimnya hingga saya sebesar ini. Juga mendoakan ibu saya semoga sehat terus, semoga Allah terus menjaga beliau dan juga bapak saya dalam nikmat sehat lahir batin. Semoga Allah meringankan langkah beliau yang meskipun usia beliau tak lagi muda, tapi sampai saat ini masih trengginas melakukan berbagai aktivitas. Dan meskipun rencana hanya tinggal rencana, tak apalah. Yang penting masih bisa dilaksanakan meskipun tidak tepat waktu.

Sekarang usia ibu saya 62 tahun. Usia yang tak lagi muda. Teman-teman seumuran ibu saya udah banyak yang terlihat sepuh sekali dengan gerak tubuh yang tak lagi cekatan dan trengginas, juga uban yang memutih. Tapi, ibu saya tidak. Ibu saya masih bugar, rambut beliau pun belum banyak yang beruban. Gigi-gigi beliau pun masih utuh semua, belum ada satupun yang ompong. Ibu malah terlihat 10 tahun lebih muda daripada usia yang sebenarnya. Jauh beda dengan teman-teman seumuran beliau.

Sejak saya kuliah, saya harus hidup mandiri jauh dari orang tua. Saya di Solo dan orang tua saya di Jogja. Setelah saya bekerja, saya tetap di Solo. Begitupun setelah saya menikah, saya masih di Solo. Dan mungkin sampai nanti-nanti pun akan tetap tinggal di Solo. Sedihnya nggak bisa setiap hari bertemu ibu. :-(

Dan sejak saya kuliah hingga sekarang bekerja dan menikah, ada satu hal yang nggak bisa saya tinggalkan ketika saya pulang ke rumah. Kerokan. Meskipun saya tidak sedang sakit, tetap aja saya minta dikeroki. Rasa-rasanya saya belum pulang kalau belum dikeroki ibu. Istilahnya belum afdhal. Kalau udah dikeroki, rasanya badan juga terasa lebih enteng. Hmm … kalau itu mungkin lebih pada sugesti kali, ya? Tapi, ya begitulah. Setiap pulang, kerokan adalah hal wajib yang harus dilakukan. Kalau di sini saya ngerasa nggak enak badan pun, rasanya pengen pulang. Pengen dikeroki sama ibu. Nggak tahu, deh … setiap kali sakit, kalau udah dikeroki dan dipijeti ibu, rasanya sakit saya pelan-pelan sembuh. Miracle of mom kali, ya? Hehehe …

Ibu tak pernah lelah mendoakan saya dan saudara-saudara saya. Belum lama ini ibu mengatakan sesuatu kepada saya yang membuat saya terharu. Ada rasa bahagia, tapi juga ada rasa sedih. Ibu bilang, “Wis, ora sah dipikirke kapan Gusti Allah arep ngekeki momongan. Nek wis wayahe, anak ki bakal ndredel. Sing penting usaha karo ojo lali ndonga terus. Tak dongakke terus ben kowe ro bojomu gek ndang diparingi momongan. Salat tahajudku yo nggo kowe ro bojomu ben tentrem terus, diparingi momongan sing okeh. Ora sah digawe abot nek saiki durung wayahe duwe momongan”. Degggg … ya Allah, ibuuuuu … :-(  Ibu seolah-olah tahu apa yang sedang saya pikirkan saat itu.

Kata-kata itu bikin saya mbrebes mili. Menenangkan dan menyejukkan, tapi juga bikin saya terharu. Alhamdulillah waktu itu ibu saya bilangnya lewat telepon, jadi ibu nggak lihat saya menangis. Ibu saya tidak pernah sekalipun menyebut kata-kata tidak subur. Sama sekali tidak pernah. Ibu juga sama sekali tidak pernah sekalipun menanyakan apakah saya subur atau tidak. Ibu juga sama sekali tidak pernah menyinggung tentang cucu. Ibu sangat menjaga perasaan saya. Dan itu sangat sangat sangat membuat saya tentram dan nyaman. Seolah-olah ibu saya tahu kata-kata apa yang saya butuhkan untuk membuat hati dan pikiran saya nyaman.

Perempuan mana sih yang nggak menginginkan memiliki keturunan? Tapi, jika hampir satu tahun pernikahan belum juga diberi keturunan, mungkin memang belum saatnya. Meskipun saya yakin sekali, di usia beliau yang kini sudah 62 tahun, ibu pasti sangat ingin menimang cucu dari saya. 

Ketika bulan Ramadan kemarin, ibu juga membuat saya terharu. Pada 10 hari terakhir Ramadan, ibu melakukan itikaf di mesjid. Ibu bilang bahwa itikaf yang beliau lakukan juga untuk anak-anaknya, termasuk saya dan suami. Ibu … semuanya bener-bener bikin saya terharu. Begitu banyak yang ingin saya ceritakan soal ibu. Sampai-sampai saya bingung mau memulai dari cerita yang mana. Karena setiap moment, selalu ada kisah berharga untuk saya. Dan itu semua dari ibu saya. ^_^

Selamat hari lahir, ya Bu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar